header-int

Survey Terumbu Karang Dan Mangrove Untuk Pengelolaan Berkelanjutan di Kabupaten Banggai

Jumat, 02 Jun 2017, 16:36:51 WITA - 99 View
Share
Survey Terumbu Karang Dan Mangrove Untuk Pengelolaan Berkelanjutan di Kabupaten Banggai

Sebagai tahap penyiapan masyarakat dalam pengelolaan mangrove dan sumberdaya pesisir berkelanjutan, Perkumpulan Japesda (Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam) melakukan survey terumbu karang dan mangrove di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Program Manager Japesda, Ahmad Bahsoan mengatakan survey terumbu karang dan mangrove dilakukan sejak awal bulan Maret dan April 2017, di beberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Banggai yaitu Kecamatan Luwuk Timur, Kecamatan Pagimana, Bunta, Lobu, Bualemo, Balantak, Batui dan Kecamatan Toili. Namun menurutnya fokus survey yang diutamakan ada di dua desa yaitu desa Lambangan, Kecamatan Pagimana dan Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur.

“Fokus Survey di dua desa tersebut kami lakukan karena kami akan menyiapkan masyarakat untuk mengelola atau memanfaatkan potensi sumber daya pesisir yang berkelanjutan dan tentunya tanpa merusak” ujar Ahmad.

Survey terumbu karang dan mangrove tersebut dilakukan Japesda bekerja sama dengan peneliti terumbu karang dan mangrove dari Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Muhammadiyah Gorontalo.

Berdasarkan hasil survey mangrove secara umum kawasan mangrove di Kabupaten Banggai telah mengalami penurunan kualitas yang cukup parah, baik dari segi tutupan lahan mangrove, maupun keanekaragaman spesies dan jumlah individu mangrovenya. Tingkat kerusakannya lebih banyak diakibatkan oleh kegiatan alih fungsi lahan menjadi tambak.

Nurain Lapolo salah satu anggota tim survey mangrove mengatakan untuk Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur dan Desa Lambangan, Kecamatan Pagimana, ancaman terberatnya adalah alih fungsi kawasan hutan untuk peruntukkan lain; sebagai kawasan tambak, pengambilan kayu untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Sedangkan untuk terumbu karang, kerusakannya akibat dari penggunaan bahan peledak dan penangkapan yang merusak dengan menggunakan potas atau bahan beracun.

By : Ivol Paino

japesda Perkumpulan JAPESDA didirikan pada tahun 2000 oleh individu-individu terdidik dan kritis yang secara sadar memilih jalan untuk mengabdikan dirinya secara sukarela kepada lingkungan dan masyarakat marginal, pada dasarnya memiliki keinginan untuk ikut berperan dalam mewujudkan suatu sistem pengelolaan sumberdaya alam yang bertumpu pada kekuatan masyarakat guna menjamin kelestarian ekosistem sebagai sumber penghidupan.
© 2017 JAPESDA | Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Follow JAPESDA : Facebook Twitter Linked Youtube