Penulis: admin

Promosi Pangan Lokal di Gorontalo

No Comments

Sejumlah pangan lokal hasil olahan masyarakat dari berbagai desa di Gorontalo dipamerkan oleh mitra Global Environmental Facility – Small Grants Programme (GEF-SGP) dan Siemenpuu, di rumah adat Dulohupa Kota Gorontalo, kemarin (8/2/).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antar komunitas dari beberapa desa; Saritani, Tamaila Utara, Juriya, Torosiaje Jaya, Mootilango, Batu Layar dan Bongomeme.

Tujuannya adalah untuk mempromosikan olahan produk pangan lokal komunitas desa di wilayah pesisir Gorontalo bagian Barat, hingga beberapa desa di wilayah hulu Kabupaten Boalemo dan Gorontalo. Daerah-daerah ini menjadi wilayah intervensi program GEF-SGP di Gorontalo dan program Siemenpuu.

 

Tidak hanya menjual olahan produk, “Lapak Kuliner Pangan Lokal Komunitas” juga menjual hasil pertanian masyarakat desa Saritani Unit Permukiman Trasmigrasi (UPT) SP3 Pabuto, yang turut menarik perhatian banyak pengunjung. Di antaranya cabai, aneka pisang, singkong, jeruk, bengkoang, pepaya, nenas dan lainnya. Semua produk-produk ini berasal dari kebun yang tidak menggunakan pupuk kimia.

Yang tidak kalah menarik ada live cooking dari salah satu petani Desa Sari Tani. Petani tersebut menggoreng tahu dan meracik sambal khasnya. Bun, begitulah ia dipanggil. Pria paruh baya itu merasa senang sekali karena bisa memasak di depan para pengunjung. Senyumnya merekah menyaksikan pengunjung yang menikmati produk olahannya.

“Ya harapan saya, produk ini juga dibeli oleh pengunjung yang datang,” kata Bun.

 

Dari wilayah pesisir paling barat Gorontalo, juga ada produk olahan dari mangrove, yaitu stik buah mangrove dan pia cokelat kacang. Sejumlah produk ini merupakan hasil olahan kelompok perempuan di sana. Ini merupakan produk alternatif yang bisa menambah penghasilan ekonomi.

 

Zul, salah satu pengunjung mengungkapkan, kegiatan semacam ini memang perlu untuk digelar. Karena menurutnya, saat ini banyak produk dari luar daerah yang mendominasi Gorontalo, padahal, dari kebun-kebun petani lokal, kita bisa mendapatkan berbagai olahan lokal yang tidak kalah enak.

“Ini camilan enak. Tidak kalah enak dari produk-produk yang dijual. Apalagi dengan produk-produk ini, kita tahu bahwa memang pengelolaannya ramah lingkungan. Tidak menggunakan pupuk kimia,” tutup Zul.

 
Sumber: https://kumparan.com/banthayoid/promosi-pangan-lokal-di-gorontalo-1soPmYO0BoQ

Japesda Latih Emak Emak Torosiaje dan Siduwonge Keterampilan Mengolah Hasil Alam

No Comments

POHUWATO – Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) mendorong para kaum ibu dan remaja desa Torosiaje dan Siduwonge, Kabupaten Pohuwato untuk membuat produk makanan. Hal itu karena kedua desa memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti ikan dan hutan mangrove.

“Makanya kita mendorong bagaimana untuk memanfaatkan mangrove dan ikan untuk menjadi olahan makanan,” kata Nurain pada pelatihan pembuatan produk makanan di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Kamis (10/10/2019).

Dalam pelatihan Nurain menyebutkan warga diberi pelatihan membuat delapan produk yaitu; ikan asin, sambal ikan asin, abon ikan cakalan, sambal ikan cakalan, keripik sambal ikan cakalan, keripik sambal ikan asin, stick mangrove dan sabun cair yang dibuat dengan buah mangrove.

“Kan ini salah satu desa wisata, harapannya ke depan dengan makanan khas ini bisa jadi oleh-oleh khas Desa Torosiaje dan Siduwonge. Jadi ketika pengunjung yang datang, mereka akan memasarkan produk-produk itu, juga dapat dijual hingga keluar Gorontalo” kata Nurain.

Sementara itu, Kepala Desa Torosiaje Jaya, Faldi Pakaya pelatihan tersebut adalah peluang yang baik untuk mengembangkan dan memanfaatkan SDA sehingga dapat meningkatkan perekonomian warganya.

“Kami juga sebagai pemerintah desa akan memenuhi kebutuhan modal, barang, peralatan agar warga desa bisa tekun dan ulet dalam menjalankan inovasi ini,” kata Kepala Desa Torosiaje, Faldi Pakaya.

Pada pelatihan membuat produk makanan berbahan baku ikan dan mangrove, Japesda didukung oleh Siemenpuu Foundation melatih sebanyak 30 orang warga Desa Torosiaje dan Siduwonge selama empat hari.

Sumber: pojok6.id

Categories: JAPESDA

Cerita Warga Lambangan Menghadapi Masalah Kerusakan Mangrove

No Comments

BANGGAI – Kerusakan hutan mangrove di Desa Lambangan, Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai begitu mengkhawatirkan ekosistem laut. Kerusakan mangrove itu juga berimbas kepada warga Lambangan, misalnya seprti berkurangnya hasil tangkapan nelayan, pasang surut air laut yang masuk ke lahan warga sekitar pesisir dan sejumlah persoalan lain yang dihadapi warga Desa Lambangan.

Warga desa Lambangan, Sopyan Lele (36) menceritakan tentang kerusakan mangrove di desanya dua tahun sebelum hadirnya Program konservasi mangrove oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber daya Alam (Japesda) pada tahun 2017.

Sopyan Lele yang juga Ketua Zona Pemanfaatan Laut mengungkapkan bahwa sebelum hadirnya Japesda kerusakan mangrove sangat terlihat. seperti penebangan mangrove yang dimanfaatkan menjadi kayu bakar, pembuatan rumah dan pagar rumah.

“Saya tidak memungkiri saat itu, saya juga ikut menebang mangrove. sebelum datang Japesda ke kampung ini” kata Sopyan yang akrab disapa Om Edi itu.

ia menjelaskan program konservasi mangrove yang saat ini tengah dilakukan didesanya sangat bermanfaat bagi kehidupan warga. Belakangan ia menyadari bahwa hutan mangrove penting untuk ekosistem laut dan pertahanan alam. Dengan manfaat dan kesadaran itu Sofyan merasa bertanggung jawab dan harus ikut andil dalam melestarikan hutan mangrove di kampungnya.

“Hadirnya program Japesda ini membuat saya sadar bahwa penting sekali mangrove ini dirawat. manfaatnya juga banyak, dulu saya mencari ikan itu lumayan jauh, kalau sekarang saya mencari ikan sudah tidak jauh-jauh lagi dan biayanya sudah tidak banyak kan” ujar Sofyan.

Ia mengaku sejak konservasi mangrove dilakukan pada 2017 lalu, warga didesanya semakin sadar tentang pentingnya mangrove di kampungnya. Kelompok nelayan dan aparat Desa Lambangan saat ini melakukan proses pembuatan Peraturan Desa (Perdes) tentang konservasi dan larangan merusak hutan mangrove.

“Kita dan kelompok nelayan bekerja sama dengan aparat desa juga sudah membuat dan menyusun Perdes larangan merusak mangrove. kalau sekarang ini kita masih menunggu pengesahannya” kata Sopyan.

Menurutnya adanya penyusunan Perdes tentang konservasi dan pelarangan mangrove ini, desa memiliki peraturan yang jelas tentang konservasi mangrove dan dapat menindak siapa saja yang merusak mangrove di kampung halamannya itu.

Sumber: pojok6.id

Categories: JAPESDA

Menanam 3800 Bibit Mangrove Dipulau Batang Desa Uwedikan

No Comments

Banggai – Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) melakukan penanaman 3800 bibit mangrove di Pulau Batang desa Uwedikan Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Jumat (05/07/19).

Pendamping Desa Uwedikan, Mohammad Ikbal Karau menjelaskan bahwa, kegiatan penanaman mangrove ini di fokuskan pada Pulau Batang karena lokasi itu memiliki kerusakan yang cukup parah dari 11 pulau yang menjadi wilayah konservasi mangrove.

“Kita buat di sana, memang pulau itu memiliki kerusakan yang lumayan parah dari pulau lainnya” kata Ikbal.

Lebih jauh ia mengungkapkan penanaman itu merupakan upaya melestarikan tumbuhan mangrove yang berada di kawasan pulau-pulau penyanggah. Penanaman mangrove juga dapat bermanfaat bagi nelayan dan meningkatkan ekonomi warga lokal Desa Uwedikan.

“Penanaman ini juga kan bisa membantu nelayan lokal di desa” kata Ikbal.

Dalam penanaman mangrove terlibat juga aparat desa Bantaian, Karang Taruna Uwedikan, aparat desa Duhon, kelompok anggota daerah Perli Sudahndungan Laut (DPL) Uwedikan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banggai.

Sumber: pojok6.id

Categories: JAPESDA

Lambangan dan Uwedikan, Desa yang Merancang Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat

No Comments

Dua desa di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, memiliki potensi laut menjanjikan: Lambangan, Kecamatan Pagimana dan Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur. Ekosistem laut seperti padang lamun, terumbu karang, dan hutan mangrove masih terjaga. Bagaimana komunitas nelayan kecil dan tradisional itu menjaga wilayah kelolanya?

Ridwan Ishak kaget bukan kepalang. Ledakan bom ikan terdengar tidak jauh dari tempatnya memancing, sekitar 50 meter. Tiga perahu dengan muatan tujuh orang ternyata pelakunya.

“Woy, jangan ba bom di sini…!!!” teriaknya.

Didu, panggilan akrab Ridwan, coba mengusir. Sebuah batu ukuran kepalan tangan yang ada di perahunya, ia lemparkan ke perahu pembom. Kena!

Para pelaku marah, mereka mengeluarkan kalimat perlawanan. Ketegangan terjadi.

Didu dan temannya segera mengarahkan perahu ke pantai. Betul saja, perahu pembom ikut mengejar. Tiba di darat, mereka mengumpulkan batu, kayu, atau apa saja yang bisa dilempar ke arah perahu pembom ikan.

Lemparan itu cukup ampuh. Para perusak itu memutuskan balik kanan, menjauh. “Kejadian itu, akhir 2016. Mereka sering membom di tempat kami,” cerita Didu kepada Mongabay Indonesia, akhir September 2018.

Didu adalah nelayan di Desa Lambangan. Orang-orang Lambangan sebagian besar didominasi Suku Saluan yang sangat erat dengan tradisi pertanian. Namun, sebagian mereka justru menggantungkan hidup dari perikanan tangkap di wilayah pesisir.

Selanjutnya bisa dibaca; https://www.mongabay.co.id/2018/11/15/lambangan-dan-uwedikan-desa-yang-merancang-perlindungan-laut-berbasis-masyarakat/

Categories: JAPESDA