Baleba dan Pentingnya Jeda Penangkapan Gurita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Baleba, atau musim selatan, bagi sebagian besar warga Banggai pada umumnya berarti musim yang buruk. Hujan disertai angin kencang menjadi penandanya. Sementara di laut, gelombang air laut meninggi. Baleba merupakan bahasa suku saluan, suku asli Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Musim dengan cuaca ekstrim ini datang pada pertengahan bulan. Sejak bulan Mei kemarin, hujan memang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia bagian timur. Entitas yang paling terdampak oleh musim baleba ini salah satunya dalah para nelayan. Terutama nelayan kecil yang menggantungkan penghidupan dari hasil laut.

Field staff Jaring Pengelolaan Sumber daya alam (JAPESDA), Muhammad Ikbal Karau mengungkapkan, saat ini nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Banggai banyak yang memarkir perahu. Kalaupun ada nelayan yang tetap melakukan aktivitas di laut, waktunya dikurangi dari biasanya.

“Biasanya para nelayan di sini turun melaut sejak pagi. Di musim Baleba ini, diundur sampai sore sekitar pukul 16.00 Wita, kalau gelombang sudah agak mereda. Paling lama sampai pukul 23.00 Wita,” kata Ikbal, Minggu (28 Juni 2020).

Lantaran cuaca ekstrim, banyak nelayan yang memarkir perahu. Foto: Muhammad Ikbal Karau

Ikbal menambahkan, nelayan yang masih tetap memilih melaut adalah warga asli suku bajo. Sementara warga lain, ada yang memilih fokus untuk bertani (bagi yang memiliki lahan pertanian), ada pula yang berdagang.

Selain terbatasnya waktu melaut, di musim baleba juga nelayan tidak bisa memakai beberapa alat tangkap. Pukat tradisional, satu-satunya alat tangkap yang bisa berfungsi di gelombang air laut yang labil. Para nelayan memanfaatkan waktu dengan segala keterbatasan ini untuk memperbaiki alat operasional melaut mereka.
Meski begitu, kata Ikbal, produktifitas hasil tangkapan ikan nelayan tetap tinggi. Jenis-jenis ikan seperti bandeng, baronang, bubara dan lain-lain masih jadi primadona, kecuali gurita.

“Karena alat tangkap gurita seperti manis-manis dan gara-gara, tidak bisa digunakan di gelombang tinggi. Saat ini tidak ada nelayan yang menangkap gurita.”

Gurita sendiri merupakan salah satu komoditas perikanan utama di Desa Uwedikan. Dari hasil survei JAPESDA, sedikitnya ada 15 jumlah nelayan yang kesehariannya menangkap gurita, sebagian besar warga bajo. Di hari biasa, nelayan bisa menangkap 8 hingga 10 ekor gurita per hari.

Dalam beberapa tahun belakangan, gurita telah berkontribusi dalam perekonomian nasional. Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, pada periode Januari – September 2018, ekspor Cumi – Sotong – Gurita Indonesia mencapai USD 371 juta atau 10,53% dari keseluruhan nilai ekspor perikanan Indonesia.

Jeda penangkapan gurita oleh nelayan karena musim baleba, di sisi lain, memberi waktu gurita untuk berkembang biak. Gurita biasanya mengerami telurnya selama satu bulan, hingga menetas. Gurita betina dapat bertelur sebanyak kurang lebih 300.000.

Komik: Blue Venture

Blue Ventures, lembaga yang fokus pada isu konservasi kelautan dan penguatan masyarakat pesisir sebenarnya sudah melakukan kampanye mengenai jeda panangkapan gurita, atau penutupan sementara. Selain untuk meningkatkan jumlah dan ukuran gurita, juga untuk meningkatkan produktivitas nelayan itu sendiri.

Di selatan barat Madagaskar, masyarakat dilarang menangkap gurita dalam waktu satu setengah bulan. Penutupan itu bahkan didukung oleh pemerintah dan dibuatkan peraturan khusus lewat undang-undang Madagascar nomor 1637/2005: dilarang menangkap dengan cara apapun dari tanggal 15 desember hingga 31 Januari di pantai barat Madagascar. Mekanisme tersebut meningkatkan jumlah gurita, bobot beserta pendapatan nelayan setempat.

Di pulau Kaledupa, Wakatobi program khusus untuk mengelola sistem tangkap gurita bahkan sudah dilakukan sejak lama, pada tahun 2016 dengan bantuan dampingan Blue Ventures. Menariknya, penutupan sementara wilayah penangkapan gurita di sana berbasis peraturan adat: sasi.

Masyarakat akan saling menjaga dan mengawasi siapa saja yang melakukan penangkapan sebelum waktunya, dan berikan sanksi sesuai kesepakatan dari musyawarah bersama. Setelah penutupan sementara, bobot gurita bertambah, begitu juga dengan harga gurita. Terbukti, memberi jeda penangkapan gurita, berdampak besar dan manfaatnya bisa dirasakan oleh nelayan.***