Begini Cara Nelayan Uwedikan Menangkap Teripang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Teripang (holothuridea), atau biasa dikenal dengan timun laut belakangan menjadi spesies yang paling diburu nelayan Indonesia. Selain karena relatif mudah dijumpai, teripang juga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Meski begitu, berbeda degan jenis perikanan tangkap lain, pengolahan teripang harus melewati proses panjang sebelum akhirnya bisa dipasarkan. Selain itu, metode penangkapannya pun berbeda-beda.

Dari data awal yang dihimpun Japesda, terdapat delapan nelayan yang intens menangkap teripang di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Semuanya merupakan nelayan yang berlatarbelakang Suku Bajo.

Nelayan Uwedikan biasanya menangkap teripang di malam hari. Menurut hitungan masyarakat Bajo, teripang akan banyak muncul di dasar laut atau di atas substrat pada malam ke-18 hingga bulan baru. Dalam penelitian Adnam Aziz (1996) berjudul “Makanan dan Cara Makan Berbagai Jenis Teripang”, dijelaskan, ada beberapa jenis teripang yang aktif mencari makan di malam hari, seperti teripang jenis Holothuria scabra, Holothuria vitiens, Actinopyga lecanora, Stichopus variegatus, dan Stichopus chloronotus.

Salah satu jenis teripang hasil tangkapan nelayan di Desa Uwedikan, Luwuk Timur, Banggai.

Berbekal perahu dan senter, para nelayan ini memulai aktivitas pencarian dimulai dari pukul 20:00. Cuaca juga menjadi pertimbangan sebelum memutuskan turun melaut. Nelayan Uwedikan memiliki dua alat tangkap teripang, yakni Ladung dan Kanjai. Keduanya memiliki fungsi sesuai kedalaman laut.

Ladung digunakan ketika teripang berada di kedalaman 10-20 meter. Alat ini terbuat dari kayu berukuran panjang satu meter, ujungnya memakai timah dan kawat, serta dilengkapi dengan tali. Di kedalaman seperti itu, tali berfungsi agar alat tersebut mudah dikendalikan dan tidak tercecer hingga dasar laut. Sementara Kanjai dipakai saat kondisi air surut, atau di kedalaman 1-2 meter. Dibuat dari kayu atau bambu yang sedikit lebih panjang, bisa mencapai panjang dua meter. Ujungnya terdapat tiga cabang besi yang  tajam, sepintas seperti tombak.

Teripang menjadikan padang lamun dan terumbu karang sebagai habitatnya. Nelayan Uwedikan biasa menangkap teripang di sekitar pulau-pulau kecil yang lokasinya tidak jauh dari area pemukiman. Proses pencarian bisa memakan waktu hingga lima bahkan tujuh jam. Kalau lagi “beruntung” mereka bisa pulang cepat pukul 01:00, tapi dalam beberapa kesempatan mereka baru tiba di rumah pukul 03:00.

Prosesnya tak berhenti di situ. Keesokan paginya, teripang-teripang hasil tangkapan tersebut dibersihkan, dikeluarkan isi perut, kemudian direbus menggunakan garam selama 1-2 jam. Setelah tahapan itu rampung, teripang lalu dijemur. Proses penjemuran bisa memakan waktu 2-7 hari, sesuai kondisi cuaca. Proses akhir ini menjadi sangat penting karena bisa menentukan harga, semakin bagus kualitas tingkat kekeringan teripang,  maka harga semakin tinggi.

Penampakan teripang setelah melewati proses penjemuran atau pengeringan, sebelum dipasarkan.

Nelayan Uwedikan sudah punya langganan pengepul yang membeli hasil tangkapan teripang mereka. Harganya tergantung ukuran dan jenis.Teripang berukuran C (3 cm ke bawah) dihargai Rp.200.000 per kilogram, ukuran B (4-6 cm) Rp.500.000 dam ukuran A (7cm ke atas) Rp.800.000. Sementara untuk harga sesuai jenis: Kasidou/teripang polos dibeli dengan harga Rp. 280.000 per kilogram, kemudian jenis teripang hitam/tipulu harganya lebih mahal, Rp. 600.000 per kilogram,  dan jenis teripang cera merah/cera hitam/cera putih/cera duri biasa dibeli dengan harga Rp.200.000 per kilogram.

Dalam sekali turun, rata-rata para nelayan menangkap 7-10 ekor teripang. Jika sedang musimnya, dalam semalam mereka bisa mendapatkan tiga puluh ekor teripang, setelah melewati proses pengeringan jumlah ini bobotnya 6 ons atau setara dengan setengah kilogram.

Tingginya nilai ekonomi teripang dan permintaan pasar ekspor membuat spesies ini diburu secara masif. Hal ini membuat  keseimbangan populasi teripang ikut terancam. Beberapa nelayan di Desa Uwedikan sudah menyadari itu ketika teripang makin hari makin sulit ditemui.

Pada titik ini, pengelolaan perikanan yang berkelanjutan menjadi sangat penting, agar masyarakat atau nelayan bisa mendapat manfaat ekonomi dari teripang untuk jangka waktu yang lama, sampai anak cucu mereka nanti. Sesuatu yang sedang diinisiasi Japesda di Desa Uwedikan.***