Berkolaborasi Memulihkan Ekosistem Mangrove di Cagar Alam Tanjung Panjang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Untuk pertama kalinya, penanaman berskala besar dilakukan di dalam kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang (CATP). Setidaknya, ada sekitar tiga ribu bibit pohon mangrove yang ditanam di lahan seluas dua hektar, di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Kamis (1/10/2020).

Penanaman itu dilakukan melalui kolaborasi antara Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, Seksi Wilayah II, Gorontalo bersama Jaring Advokasi Sumberdaya Alam (Japesda ), Mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Negeri Gorontalo, serta pemerintah Desa Siduwonge.

Kepala BKSDA Wilayah II Gorontalo, Sjamsuddin Hadju mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan untuk memulihkan ekosistem mangrove yang telah rusak di lokasi itu, dan sebagai bentuk komitmen untuk mempertahankan kawasan CATP agar tetap menjadi wilayah konservasi, seperti yang telah disepakati oleh berbagai pihak melalui forum diskusi yang dilakukan beberapa tahun belakangan.

“Kami dipercayakan oleh BPDAS-HL, untuk melakukan pemulihan ekosistem sebanyak sepuluh hektare lahan di tempat ini,” ujar Sjam, di sela-sela kegiatan.

Sementara itu, terdapat sekitar 93% bukaan lahan dari total 3.129,48 hektar luasan hutan mangrove di CATP. Mirisnya, sebagian besar bukaan lahan tersebut dialihfungsikan menjadi kawasan tambak.

Sjam sendiri menargetkan dapat memulihkan seperempat hutan mangrove yang telah dialihfungsikan menjadi kawasan tambak itu dalam empat atau lima tahun kedepan, agar fungsinya dapat dirasakan oleh semua orang.

“Saya sangat mengidamkan tempat ini kembali ke fungsinya, sebagai kawasan konservasi Cagar Alam Tanjung Panjang. Oleh karena itu dilakukan upaya pemulihan ekosistem di tempat ini,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan  Kepala Desa Siduwonge, Neni Giasi. Menurutnya, pemulihan ekosistem perlu dilakukan di tempat itu, untuk menjalankan komitmen yang telah disepakati pada diskusi panjang tahun-tahun kemarin.

“Selama tidak ada pihak yang dirugikan, saya senang komitmen untuk mempertahankan kawasan konservasi telah dijalankan,” tuturnya.

Kegiatan pemulihan ekosistem tersebut melibatkan beberapa orang penggarap tambak yang ada di sekitar lokasi pemulihan. Salah satunya Abdul Gani (40), penggarap yang baru dua tahun menetap di Desa Siduwonge. Dia mengaku batu pertama kali mengikuti kegiatan semacam ini.

“Selama ada manfaatnya, saya senang mengikuti kegiatan seperti ini,” katanya, singkat.

Selain itu, salah satu mahasiswi yang mengikuti kegiatan tersebut, Titi Hawanda Metania Kono (22),  mengungkapkan bahwa sebelumnya dia sudah mengetahui isu tentang perambahan yang terjadi pada kawasan konservasi CATP, namun belum pernah melihat langsung kondisinya seperti apa.

“Saya baru pertama kali datang ke tanjung panjang, tapi setelah melihat alihfungsi kawasan mangrove menjadi tambak. Perasaan saya campur aduk, antara marah, kecewa dan sedih semuanya menjadi satu.”

Titi berharap masyarakat yang tinggal di kawasan CATP dapat menjaga dan melestarikan kawasan mangrove yang masih tersisa di tempat ini, utamanya pada mangrove yang kami tanam hari ini,” tutupnya. ***