Gelar Lokakarya, Japesda Dorong Kolaborasi Pengelolaan Perikanan Gurita yang Berkelanjutan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Selama hampir setahun melakukan program kerja di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kemarin, Selasa (16 Februari 2021), Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (Jaesda) bersama mitra Yayasan Pesisir Lestari mengadakan kegiatan lokakarya dengan tema: “Mendorong Konservasi dan Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat Melalui Perikanan Gurita di Kabupaten Banggai.”

Lokakarya diadakan secara luring di aula kantor Bupati Banggai dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19, dan secara daring via aplikasi zoom yang disiarkan langsung di akun facebook Perkumpulan Japesda.

Sejak awal program, Japesda selalu melakukan kolaborasi dengan banyak pihak untuk mendorong tujuan yang sama. Sebagaimana semangat kolaborasi yang sedari awal diusung, lokakarya tersebut menghadirkan masyarakat dan nelayan Desa Uwedikan dan pemerintah; dari pemerintah desa hingga pemerintah pusat. Kolaborasi atau co-management ini sebagai alternatif untuk mendorong terjadinya sinergi antar semua stakeholder terkait dalam pengelolaan sumberdaya laut, dalam hal ini perikanan gurita.

Sebagai pengantar, Badan Pengawas Japesda, Rahman Dako menerangkan tentang kerja-kerja dan tujuan utama Japesda, yakni soal pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan yang berbasis konservasi dan pengembangan masyarakat.

“Bagaimana sumberdaya alam bisa lestari, secara bersamaan tidak terpinggirkan dan mendapatkan manfaat dari sumberdaya alam itu sendiri. Inilah yang mendi prinsip utama kami di Japesda,” kata Aga, sapaan salah satu pendiri Japesda ini.

Ia menjelaskan, Japesda mendorong aktor-aktor dalam perikanan seperti nelayan, pengusaha perikanan dan pemerintah dapat bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir. Agar tidak ada lagi stereotype yang menyebut nelayan itu miskin, perusak laut dan lain sebagainya.

Beberapa waktu yang lalu, Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah mengekspor 20,5 ton atau senilai Rp. 1,1 miliar ke Meksiko. Hal ini, menurut Bupati Banggai, Erwin Yatim merupakan potensi besar dan kebanggaan Kabupaten Banggai.

“Marilah kita serius menjaga dan mengelola wilayah kita yang sangat besar potensinya. Bersama-sama kita bersinergi bersama masyarakat pesisir, pemerintah desa hingga provinsi,” terang Bupati, sekaligus membuka kegiatan lokakarya.

Direktur Kawasan Keanekaragaman Hayati Laut Direktorat Pengelolaan Ruang Laut-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Andi Rusandi menjelaskan, pengelolaan perikanan gurita sejalan dengan target KKP tahun 2024, yakni pemanfaatan kawasan konservasi yang mendukung pengelolaan perikanan secara berkelanjutan.

“Konservasi terumbu karang dan pengelolaan perikanan gurita dapat berjalan sinergis selama mematuhi zonasi kawasan konservasi Kabupaten Banggai , Banggai Laut dan perairan di sekitarnya,” katanya.

Dirinya menambahkan, peran penting stakeholder yang dibungkus dalam program kemitraan, akan mendorong percepatan konservasi dan pengelolaan ruang laut.

Pembicara berikutnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Arief Latjuba mengajak masyarakat dan pihak perusahaan atau korporasi untuk dapat mengambil peran dalam kegiatan-kegiatan konservasi.

“Atas nama pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kami sangat mendukung kegiatan Japesda dan mungkin akan dibangun kolaborasi bersama dalam pengelolaan gurita, dan mungkin komoditi-komoditi lainnya yang bisa berbasis masyarakat dan berkelanjutan,” jelas Arief.

Gurita merupakan sumber daya perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Mayoritas penangkapnya yaitu nelayan skala kecil dan tradisional. Meski begitu, informasi mengenai produksi gurita sangat minim. Hal inilah yang menjadi salah satu fokus utama Japesda.

“Setiap hari, kami melakukan pendataan mulai dari jumlah tangkapan nelayan, bobot hingga jenis kelamin gurita. Data-data ini kemudian kami kembalikan ke nelayan, dan didistribusikan ke pemerintah,” kata Direktur Japesda, Nurain Lapolo.

Nurain melanjutkan, semua data dan informasi yang dihimpun Japesda dikembalikan kepada nelayan, agar mereka bisa menentukan dan memutuskan sendiri bagaimana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, agar tetap bisa dinikmati anak cucu mereka kelak.

Sebagai mitra Japesda, perwakilan Yayasan Pesisir Lestari(YPL), Rayhan Dudayev menerangkan soal pendekatan YPL yang menjadikan konservasi itu menjadi masuk akal dan tidak meminggirkan masyarakat.

“Kita mau masyarakat itu menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sumberdaya. Harapannya, dengan model yang kita lakukan, konservasi ini akan mendapatkan insentif ekonomi kepada masyarakat,” kata Rayhan.

Lokakarya berlangsung kurang lebih enam jam. Ada banyak interaksi dari peserta lokakarya selama diskusi berlangsung, termasuk dari pihak akademisi, perwakilan perusahaan perikanan hingga nelayan. Salah seorang nelayan dari Desa Uwedikan, Basir Abudia menjadi pemberi testimoni kegiatan Japesda di Desa Uwedikan selama hampir setahun terakhir.

“Kami tertarik. Kami merasakan dan melihat sendiri apa yang mereka kerjakan,” ujar Basir. **