Indira Moha: Berkutat dengan Nelayan Demi Data Gurita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020, menjadi momentum reflektif bagi kaum muda milenial, untuk mengambil peran membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, seorang pemudi mengambil peran yang sedikit berbeda dari kebanyakan anak muda. Indira Moha (23) jauh-jauh meninggalkan kampung halamannya, untuk hidup berdampingan dan membantu nelayan gurita di wilayah pesisir tersebut.

Iin, sapaannya, adalah Enumerator Jaring Advokasi Sumber Daya Alam (Japesda) dalam program Memperkuat Konservasi Laut Berbasis Masyarakat dan Pengelolaan Perikanan Gurita Berkelanjutan.

Iin baru merampungkan studinya di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), tahun ini. Dia datang dan menetap di Desa Uwedikan pada bulan Agustus. Sejak saat itu, hari-harinya hanya berkutat seputar dua hal: gurita dan data.

Dengan perangkat lengkap seperti alat timbang, mistar, buku dan pena, Iin menjadi orang pertama yang menyambut gembira para nelayan gurita, ketika mereka pulang dari aktivitas melaut mereka yang melelahkan.

“Dengan melihat sendiri ukuran gurita-gurita hasil tangkapan. Mereka senang. Tak sia-sia melaut hampir seharian. Apalagi sekarang hasil tangkapan mulai banyak,” ujar dia.

Iin melakukan pendataan terkait banyak hal. Dia hafal betul jumlah nelayan serta trend hasil tangkapan gurita para nelayan di Uwedikan. Selain itu, dia juga mencatat hal-hal spesifik seperti lokasi penangkapan; alat tangkap yang dipakai nelayan; waktu penangkapan; berat dan panjang gurita; hingga jenis kelamin gurita.

Melalui data-data yang diperbaharuinya setiap hari, nelayan bisa mengetahui sumber daya dan potensi gurita di wilayah mereka. Memang salah satu permasalahan pengelolaan gurita selama ini adalah, belum ada pengkajian terkait stok gurita di lapangan. Sehingga sulit untuk menilai tingkat keberlanjutan perikanan gurita komersil.

Dan, seperti dijelaskan Iin, data-data miliknya inilah yang nantinya bisa menentukan pengelolaan yang menjaga populasi gurita di masa depan.

“Semua (data) ini, agar keseimbangan gurita di Uwedikan dapat terpantau. Untuk kebaikan nelayan juga, ke depan,” katanya.

Iin lahir di Desa Tabilaa, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara. Dia bercerita, proses pendataan gurita selalu menyenangkan dan menantang. Bagaimana dia harus berburu dengan waktu, agar bisa lebih dulu sampai sebelum perahu nelayan datang. Bertemu dengan berbagai karakter nelayan. Atau, keseruan mengajari istri-istri nelayan melakukan pendataan.

Saking dekatnya dengan nelayan. Iin menganggap mereka seperti keluarga sendiri, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana sebuah keluarga, dia sering menjadi tempat keluh kesah para nelayan. Tentang kompleksitas soal pemasaran gurita yang mereka alami, misalnya, terlebih di masa pandemi ini: harga gurita turun drastis dan perusahaan yang menerima hasil tangkapan pun tutup.

“Selain mendata, saya mendengar banyak cerita dari mereka. Dan turut merasakan kesulitan yang mereka alami,” terang perempuan yang hobi menyanyi ini.

Nelayan gurita di Indonesia didominasi nelayan skala kecil dan tradisional. Perikanan gurita punya potensi yang sangat besar. Dalam beberapa tahun belakangan, gurita mulai mendapat perhatian dari para pelaku ekspor Indonesia, karena nilai ekspor komoditas ini sangat menjanjikan.

Suara-suara sumbang dari nelayan itu, membuat Iin makin semangat. Dia lebih tertantang membantu keluarga-keluarga barunya itu. Berada di samping mereka melewati masa-masa sulit. Dia percaya sembari berharap, program Japesda ini akan menaikkan taraf hidup para nelayan skala kecil di Uwedikan, suatu saat nanti.

Iin ingin berbuat lebih dari apa yang dilakukannya sehari-hari.

“Tak hanya sekadar mendata,” tegasnya.***