Kado Pahit Menteri Edhy-Luhut di Momen Hari Mangrove Sedunia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA– Belum juga usai perdebatan mengenai kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, membuka keran ekspor benih lobster dan mengijinkan penggunaan alat tangkap cantrang yang menuai banyak kritik. Kali ini, duetnya bersama bersama Menteri Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, kembali menjadi sorotan. Keduanya berencana membangun 100 ribu hektar (Ha) tambak di beberapa wilayah yang sedang mereka pilah.

“Ya sekarang lagi dilihat apakah di Sulawesi itu tempatnya di mana, di Jawa Selatan itu tempatnya di mana, sekitar Sukabumi mungkin. Kemudian di Lampung tempatnya di mana,” jelas Luhut, seperti dilansir Detik.com, Jumat (24/7/2020).

Keterangan itu disampaikan Menteri Luhut berdasarkan hasil rapat koordinasi virtual bersama Menteri Edhy. Dirinya menuturkan, untuk tahun ini pemerintah akan fokus untuk merealisasikan pembangunan tambak seluas 30 ribu Ha. Realisasi di tahun ini pun akan dipercepat demi memanfaatkan momentum permintaan udang yang tinggi.

“Sekarang permintaan udang tinggi, di India karena lockdown tidak ada produksi itu. Jadi momentum yang bagus. Jadi kalau kita bisa bikin 30 ribu Ha, 40 ribu Ha, atau 50 ribu Ha, tapi target pertama kita ini 30 ribu Ha,” paparnya.

Sekilas, tak ada yang aneh dari rencana tulus Menteri Edhy-Luhut memanfaatkan momentum untuk memulihkan ekonomi nasional di masa pandemi. Tapi, yang (mungkin) tidak dipertimbangkan keduanya dari rencana tersebut adalah ancaman peralihan hutan mangrove menjadi tambak; persoalan klise yang dialami banyak wilayah pesisir.

Berbicara soal momentum, tepat dua hari sebelum rencana dua menteri kondang itu digaungkan, pendiri Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), Rahman Dako sebenarnya sudah mengingatkan tentang ancaman nyata tambak terhadap keberlangsungan hutan mangrove. Dalam webinar “Biodiversitas Teluk Tomini: Potensi dan Tantangan Pengelolaan Biodiversitas Pesisir”, dirinya mengungkapkan bagaimana hutan mangrove mengalami degradasi yang signifikan.

Bentangan tambak yang dulunya adalah hutan mangrove di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Foto: Dokumen Japesda

“Dari 27,672 ha (1988,) menjadi 16,105 ha (2010), dan diiperkirakan saat ini tinggal 10,321 ha (2020). Di banyak tempat, kawasan hutan mangrove telah menjadi tambak. Di Gorontalo dan Sulteng, 93,26% degradasi mangrove karena pembukaan tambak,” katanya.

Dia juga menjelaskan secara spesifik bagaimana realitas hutan mangrove yang kini berada di pusaran kepentingan ekonomi dan politik. Udang, dijelaskannya, adalah penyumbang devisa terbesar dari sektor perikanan setelah tuna (≤ 39% dari total nilai ekspor perikanan). Target budidaya udang Indonesia 2020 – 2024 dinaikkan menjadi 250% (http://investor.id). Pemerintah juga memasukan tambak dalam skenario “Perhutanan Sosial” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Masih tanda tanya kenapa tambak dimasukan dalam skenario itu? Kalau kita bicara perhutanan sosial dan tambak, kalau ada tambak, lantas di mana hutannya?”

Hutan mangrove di Provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun makin berkurang. Berdasarkan data Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Provinsi Gorontalo, luasan mangrove yang ada di provinsi Gorontalo pada tahun 2015 seluas 11.065 ha, tahun 2016 berkurang menjadi 9.137 dan tahun 2017 tinggal tersisa 9.012 ha. Kerusakannya pun saat ini telah mencapai 67 persen. Sementara itu, tambak menjadi penyumbang terbesar kerusakan hutan mangrove di Gorontalo.

Beberapa waktu lalu, Kamis (11 Juni 2020), menteri Edhy ke tiga desa yang ada di Provinsi Gorontalo. Tiga desa yang telah dikunjungi tersebut masing-masing adalah wilayah pertambakan di Gorontalo. Sayangnya, di salah satu lokasi, ia memanen di hutan mangrove yang telah dialihfungsikan menjadi tambak. Japesda dan pemerhati lingkungan di Gorontalo menyayangkan hal tersebut. Menteri KP ibarat “memanen di atas kerusakan mangrove”.

Sisa-sisa hutan mangrove di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Foto: Dokumen Japesda

Masih soal momentum, hari ini, Minggu (26/7/2020), diperingati sebagai world mangrove day (hari mangrove sedunia). Pemerhati mangrove, atau pemerhati lingkungan pada umumnya di seluruh dunia, merayakannya dengan melakukan kampanye penyelamatan hutan mangrove.

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas, 25% dari hutan mangrove di dunia. Sementara laporan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) menyebut, dalam tiga dekade terakhir, ada lebih dari 50% wilayah hutan mangrove Indonesia yang hilang. Sesuatu yang tidak dipertimbangkan menteri Edhy-Luhut. Keduanya, seolah memberi kado pahit di momen hari mangrove sedunia ini.***

When it’s a communication course, try to obtain the emotions blog post for this.