Kisah Jali: Kerja Konservasi dan Melawan Trauma “Kerusuhan Ambon”

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Teng! Teng! Teng!

Suara keras yang berasal dari tabuhan tiang listrik memecah pagi itu, sekitar pukul 08.30 Wita. Warga Rohomoni menyebutnya bunyi toleng-toleng: sebuah peringatan tentang adanya marabahaya. Medio tahun 1999, bunyi itu seperti terompet Israil yang ditiup hampir setiap hari.

Jali melihat wajah-wajah gusar di dalam ruang kelas tiga SD Inpres 1 Rohomoni, Pulau Haruku. Panik. Tidak sedikit yang menangis. Bagi anak-anak yang rata-rata masih berumur delapan tahun itu, menangis memang adalah ekspresi alami untuk menunjukkan ketakutan. Proses pembelajaran dihentikan. Seorang guru memandu Jali dan rekan-rekan sekelasnya keluar kelas.

Di luar kelas, ia menyaksikan orang-orang dewasa tengah berkumpul. Kaka-kaka dan bapa-bapa menggenggam tombak dan parang. Jali menutup mata. Dia diantar oleh salah seorang guru sampai di rumahnya.

Jalipati Tuheteru lahir di Desa Rohomoni, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, di Pulau Haruku.

Baginya, perang pada akhirnya, hanya akan menimbulkan trauma, khususnya bagi anak-anak. Kerusuhan yang terjadi di Ambon pada masa orde baru itu menyisakan trauma mendalam bagi Jali. Sejak saat itu, ia selalu dibayangi ketakutan, bahkan hanya untuk sekadar menempuh pendidikan di pusat kota.

“Saya ingin belajar dengan nyaman. Saya ingin keluar dari (trauma) ini,” kata Jali pada suatu hari.

Benar saja. Tahun 2010, setahun setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), anak ke-tujuh dari delapan bersaudara ini memutuskan untuk merantau ke luar kampung. Dia memilih Provinsi Gorontalo sebagai tempat tujuan menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dibantu oleh kakak sepupunya yang telah berdomisili di sana sebelumnya. Setidaknya, bagi Jali, dia ingin bebas dari rasa takutnya sendiri.

Setibanya di Gorontalo, Jali mendaftar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Ia hampir terlambat mendaftar karena saat itu hari-hari terakhir batas pendaftaran. Jali memilih jurusan perikanan. Dia ingat almarhum kakaknya pernah mengambil jurusan itu. Jali ingin menyelesaikan apa yang tidak sempat diselesaikan almarhum kakaknya, yang meninggal karena sakit.

Selain itu, masa kecil Jali tidak jauh dari ikan dan laut. Di kampungnya, sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan. Setiap hari, dia dan teman-temannya bermain di pesisir pantai; membuat perahu dari pohon sagu; atau ikut bersama pamannya menangkap ikan.

Jali belajar dengan tekun. Ketekunannya berbuah prestasi. Saat masuk semester tiga perkuliahan, Jali diminta menjadi asisten oleh salah seorang dosen. Sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kemajuan Jali tak berhenti sampai di situ. Pada periode yang sama, dia membuat sebuah organisasi yang diberi nama Deheto Hulondalo. Dalam Bahasa Gorontalo Deheto artinya Laut, sementara Hulondalo berarti Gorontalo. Organisasi Laut Gorontalo ini didirikan Jali lantaran keresahannya melihat masih banyak mahasiswa yang kekurangan wadah untuk belajar bagaimana melakukan riset, mengumpulkan data atau sebatas membuat laporan. Melalui organisasi itu mereka saling bertukar-pikir soal laut dan perikanan di Gorontalo.

Tahun 2015, Jali mewakili organisasinya itu untuk mengikuti sebuah kegiatan bertema konservasi mangrove di Kota Manado, Sulawesi Utara. Pada kegiatan itu, ia bertemu dengan salah seorang pendiri danmantanDirekturJaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA), Rahman Dako. Dari pertemuan itu, Jali terkesima dengan program dan kerja JAPESDA. Ia mulai mencari tahu tentang organisasi yang didirikan pada tahun 2001 tersebut.

“Tapi, saat itu saya masih fokus menjadi asisten dosen di kampus,” ujarnya.

Tahun 2018 merupakan satu masa ketika keberadaan Jali di kampus mulai tak disukai. Jali merasa seperti parasit. Puncaknya, ketika dia mendapat perlakuan diskriminasi dari salah seorang oknum dosen. Ada sebuah kejadian di mana dosen tersebut membatasi Jali lantaran dia bukan orang Gorontalo. Ya, karena Jali bukan orang Gorontalo! Enam tahun pengabdian Jali di kampus, dilukai dengan intrik feodal.

Jali kecewa dan marah. Usahanya melupakan trauma, hanya menemukan trauma yang lainnya. Jali merasa kalah. Saat itu juga ia memutuskan angkat kaki dari Gorontalo. Pulang kampung.

Sebelum ke kampung halaman, Jali melampiaskan amarahnya tidak dengan brutal. Ia memanfaatkan kekesalannya untuk meningkatan kapasitas diri. Salah satunyadengan mengikuti kursus bahasa Inggris di “Kampung Inggris” di Pare, Kediri, JawaTimur. Selama tiga bulan dia menetap di sana, sebelum akhirnya pulang ke tanah kelahiran. Pulang ke pesisir, kembali menyaksikan perahu-perahu kayu berbaris rapi di kampung.

Pada periode perenungan, asa Jali mulai redup. Kehilangan arah .Bayang-bayang kerusuhan di masa kecilnya terus membuntutinya. Tiba-tiba, suatu ketika telepon genggamnya berdering singkat, sebuah pesan masuk:

“Jali, ayo bergabung dengan JAPESDA. Segera mendaftar,” Rahman Dako mengirim pesan via Facebook Messenger kepadanya.

Betapa senangnya Jali menerima pesan tersebut. Pesan itu ibarat cahaya lilin di dalam masa paling gelapnya. Namun, di lain sisi, ingatan mengenai kejadian diskriminasi di kampus Gorontalo masih menjadi benalu. Jali kembali memberanikan diri melawan trauma. Ia memutuskan kembali ke Gorontalo, memupuk harapan baru. Jali berangkat. Akhir tahun 2018, ia resmi bergabung dengan Japesda.

Jali memulai petualangannya dengan Japesda. Ia memasuki dimensi baru dalam tatanan hidupnya. Dimensi yang sangat kontras dengan apa yang didapatkannya saat menjadi mahasiswa atau sebagai asisten dosen. Tak ada lagi pendingin ruangan. Ia bekerja di bawah terik matahari yang sama dengan nelayan dan petani. Menginjak lumpur yang sama. Bertemu dan mendampingi masyarakat yang beragam. Jali banyak terlibat dengan program kerja Japesda, dan ia mulai menikmatinya. Perlahan, Jali mulai melupakan bayang-bayang trauma yang sering menghantui tidurnya, dan kini bergelut dengan dunia konservasi dan pendampingan masyarakat.

“Setelah bertemu dan berbaur dengan masyarakat. Saya merasa bahwa ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah hanya secuil. Dari para nelayan dan petani, saya mendapatkan banyak hal. Saya belajar banyak dari mereka,” katanya.

Saat ini, di tahun keduanya bersama Japesda, Jali menjadi field staff (pendamping lapangan)  dalam program pengelolaan perikanan berkelanjutan yang berkolaborasi bersama Blue Venture di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai. Pada program kali ini, Jali menyasar para nelayan, khususnya nelayan gurita, untuk mengedukasi mereka mengenai pentingnya menangkap gurita maupun biota laut lainnya dengan metode penangkapan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jali terus menyalakan tekadnya. Bahwa suatu hari nanti ia akan pulang ke kampung halamannya. Untuk sekadar mengabarkan bahwa ia telah benar-benar pulih dari rasa traumanya. Dan ingin membantu anak-anak yang mungkin masih punya sisa-sisa trauma, agar survive dan bangkit, seperti dia. Tentu saja membangun kampung beserta orang-orangnya.

“Pasti. Pasti saya akan pulang. Untuk membangun kampung dan membantu masyarakat.”***