Mantra Gurita dan Pantangan Melaut Suku Bajo di Torosiaje

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Di kehidupan yang serba modern ini, budaya dan kearifan lokal kian terbenam. Beberapa entitas masyarakat—seperti masyarakat adat—masih memegang teguh prinsip-prinsip warisan leluhur ini dalam kehidupan mereka sehari-hari, seperti yang dilakukan oleh warga Suku Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Penulis: Jalipati Tuheteru/JAPESDA

Suatu hari, seorang nelayan Bajo menangkap gurita yang masih kecil. Beberapa hari setelah menangkap bayi gurita itu, ia jatuh sakit. Namun, ia bingung dengan gejala-gejala dari penyakit aneh yang dideritanya, begitu pula dengan keluarga dan orang-orang di desa. Sementara itu, semakin hari penyakitnya semakin parah. Ia akhirnya melakukan konsultasi kepada “orang-orang tua Suku Bajo”, dan mereka menyebut ia terkena karma karena melanggar kepercayaan leluhur.

Cerita di atas adalah ilustrasi bagaimana kearifan lokal Suku Bajo yang saya temui di Desa Torosiaje. Mereka punya kepercayaan bahwa tidak bisa menangkap gurita yang masih kecil. Jika dilanggar, maka nelayan tersebut akan mendapat teguran, atau karma. Dan jika sudah terlanjur terkena karma, maka untuk melakukan penyembuhan mereka harus melakukan sebuah ritual dengan mantra-mantra. Saya menyebutnya “Mantra Gurita”.

Proses penyembuhan ini sebenarnya tidak menghadirkan gurita secara langsung, namun akan dilakukan dengan membuat sesajian yang terdiri dari nasi tumpeng, beberapa telur, beberapa batang rokok dari tembakau amor, pinang dan empat potongan buah sirih. Sesajian tersebut akan dibacakan mantra, berisi doa-doa agar penyakit si pelanggar diangkat. Selanjutnya, sesajian itu akan dibawa ke laut dan diletakkan di karang, sebagai habitat gurita.

Kepercayaan Suku Bajo di Desa Torosiaje ini sejalan dengan bagaimana seharusnya konservasi dan pengelolaan perikanan berkelanjutan, khususnya perikanan gurita. Sekali bertelur, gurita menghasilkan sekitar 300.000 telur, tapi hanya sekitar 1% yang bisa sampai ke fase dewasa. Selain karena gurita predator alami seperti hiu, penangkapan secara berlebihan kepada gurita turut mengancam populasi gurita. Apalagi eksploitasi terhadap gurita yang masih kecil.

Sekitar tahun 1950-1960, sudah ada nelayan yang mencari gurita di Desa Torosiaje. Mbo Bansiang adalah nama nelayan gurita pertama tersebut. Pada saat itu, ia menggunakan alat tangkap sarampan atau panah yang terbuat dari besi. Hasil tangkapan gurita yang diperoleh Mbo Bansiang hanya untuk dikonsumsi tidak untuk dijual. Jumlah tangkapan pada saat itu cukup banyak dibandingkan dengan sekarang. Saat ini, jumlah nelayan gurita di desa ini meningkat mencapai 51 nelayan, terdiri dari 49 nelayan laki-laki dan 2 nelayan perempuan.

Suku bajo, atau sering dijuluki sebagai suku pengembara samudra merupakan salah satu suku yang identik dengan kearifan lokal. Suku ini tersebar mulai dari Malasyia, Thailand, Philiphina dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, mereka tersebar di pulau Kalimanta, Nusa Tengga Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera, Sulawesi, hingga ke wilayah Indonesia Timur lainnya. Dan di Gorontalo, ada di Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo.

Selain mantra gurita tadi, ada banyak pantangan-pantangan lain selama beraktivitas di laut, yang mereka anggap sebagai rumah. Misalnya, saat turun melaut wajib memberikan salam kepada laut, ada juga yang harus membuang pinang di laut. Proses ini dilakukan dengan tujuan agar nelayan bisa selamat mulai dari turun melaut sampai kembali ke rumah, serta bisa memperoleh hasil tangkapan yang maksimal.

Selain itu, selama berada di laut, mereka dilarang mengumpat atau menggunakan kata-kata makian. Tidak boleh membuang wajan di laut, tidak boleh membawa nasi kuning, tidak boleh membawa hewan dari darat ke laut, termasuk daging sapi atau daging kambing. Jika semua ini dilanggar, mereka percaya akan ada teguran dari nenek moyang mereka atau penguasa laut, berupa gelombang laut yang tinggi, angin puting beliung, terkena penyakit. Ujung-ujungnya semuanya akan berdampak pada hasil tangkapan.

Setelah tinggal bersama masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, saya percaya, kearifan lokal menawarkan banyak hal yang tidak bisa dijangkau teknologi mutakhir.***

Penulis adalah staf lapangan JAPESDA untuk program “Memperkuat Konservasi Laut berbasis Masyarakat dan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan” di Desa Torosiaje.