Membangun Kolaborasi Pengelolaan Sumberdaya Alam yang Berkelanjutan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan adalah alasan mengapa Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (Japesda) lahir. Tentunya pengelolaan yang tidak mengabaikan aspek sosial dan kerusakan lingkungan. Ada sekian banyak metode yang bisa dipakai untuk menuju cita-cita besar itu. Salah satunya melalui kolaborasi atau co-management.

Kolaborasi sudah menjadi bagian dari sejarah Japesda sejak resmi didirikan tahun 2001 silam. Kala itu, ada 13 organisasi seperti lembaga non-pemerintah (NGO), mahasiswa pecinta alam Mapala), dan komunitas pecinta alam (KPA) yang bersepakat membentuk dan menjadi bagian dari Japesda. Kolektivitas, setidaknya menjadi pondasi yang mengantar lembaga ini bertahan hingga 21 tahun.

Saat ini, Japesda sementara mendorong pengelolaan perikanan berkelanjutan yang lokasinya berada di wilayah di Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk itu, Japesda pun membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, lintas sektoral.

Seperti baru-baru ini, Senin (28 Juni 2021), Japesda bertemu dengan Kepala Pos Search and Rescue (SAR) Luwuk dan mengajukan pelatihan safety at sea atau keselamatan saat melaut bagi nelayan. Pihak Basarnas sangat antusias dengan pelatihan yang rencananya akan dilaksanakan di Desa Uwedikan, wilayah dampingan Japesda.

Japesda saat bertemu dengan Kepala Pos Search and Rescue (SAR) Luwuk dan mengajukan pelatihan safety at sea atau keselamatan saat melaut bagi nelayan.

“Pelatihan safety at sea kepada nelayan sangat jarang kami lakukan. Biasanya kami memberikan pelatihan kepada kegiatan ekstra mahasiswa, Mapala, atau KPA. Jadi, kami tertarik,” kata Kepala Basarnas Luwuk.

Dalam mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, nelayan harus menjadi subjek utama. Kerap kali para nelayan mengesampingkan keselamatan diri demi mencari peruntungan di laut. Oleh karena itu, Japesda merasa pelatihan yang nantinya akan berkolaborasi dengan Basarnas Luwuk ini menjadi sangat penting.

Sebelumnya, Sabtu (26 Juni 2021), Japesda dan pihak puskesmas Hunduhon melaksanakan Penyuluhan kesehatan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada masyarakat nelayan di Desa Uwedikan, Luwuk Timur, Banggai, Sulawesi Tengah. Dalam kegiatan ini, pihak Puskesmas menyampaikan bahwa kesehatan para nelayan perlu diperhatikan dan harus menjadi prioritas.

Masyarakat pesisir diajak menjalankan PHBS. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke laut; rajin mencuci tangan; mengonsumsi buah dan sayur-sayuran dalam konsumsi harian; serta memperhatikan dan menguras tempat-tempat air yang bisa menjadi tempat berkembangbiaknya jentik nyamuk yang ada di sekitar rumah, agar terhindar dari nyamuk aedes yang dapat menyebabkan penyakit demam berdarah dan chikungunya.

Japesda dan pihak puskesmas Hunduhon melaksanakan Penyuluhan kesehatan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada masyarakat nelayan di Desa Uwedikan, Luwuk Timur, Banggai, Sulawesi Tengah. Foto: Zulkiifli Mangkau/Japesda

Kesehatan nelayan, atau masyarakat pesisir pada umumnya sangat rentan. Apalagi data menunjukkan bahwa wilayah pesisir seringkali tidak mendapat akses atau pelayanan kesehatan yang mumpuni. Selain itu, pola hidup sehat seperti tidak membuang sampah di laut juga akan berdampak positif bagi sumberdaya laut, yang notabenenya juga sumber pendapatan mereka.

Japesda juga membangun kolaborasi dengan lembaga akademik. Selasa (15 Juni 2021), Japesda melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Fakultas Perikanan Universitas Muhamadiyah Luwuk. Kami bersepakat untuk bersama-sama memikirkan bagaimana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Kabupaten Banggai.

Penandatanganan MoU antara Japesda dan Fakultas Perikanan Universitas Muhamadiyah Luwuk, Selasa (15 Juni 2021). Foto: Zulkifli Mangkau/Japesda

Ada banyak sebenarnya kolaborasi-kolaborasi yang sebelumnya dibangun Japesda. Misalnya bersama nelayan, petani, masyarakat, generasi muda desa, pemerintah desa, pemerintah Kabupaten hingga Pemerintah Provinsi, lembaga non-pemerontah, media dan lain sebagainya.

Masih akan banyak kolaborasi yang akan dilakukan. Sebab, lagi-lagi Japesda sadar, untuk untuk cita-cita besar seperti pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, perlu kolaborasi yang besar juga.***