Memetakan Lokasi Penangkapan Gurita di Uwedikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

***

Gemuruh suara mesin katintin beriringan dengan laju perahu. Matahari baru bergerak naik, pagi itu, sekitar pukul 09.45 WITA . Di ujung peragu, Jali duduk bersila, terlihat saksama memegang sebuah alat GPS.

“Agenda hari ini (Rabu, 23/9/2020) adalah pemetaan titik koordinat lokasi penangkapan gurita para nelayan,” kata Jalipati Tuheteru, field officer Japesda.

Di bagian belakang, Pua Tatih terlihat sedang serius menggerakkan sebuah tuas, memastikan arah perahu, dan sesekali memelankan mesin sesuai tekanan angin. Untuk menunggangi perahu tanpa cadik–perahu khas orang Bajo–memang perlu ketelitian ekstra.

Pua Tatih adalah salah seorang nelayan tertua di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dia sudah menetap di Desa Uwedikan sejak tahun 1970-an. Perkara melaut, tak perlu ditanya, orang-orang Bajo sudah melaut sejak balita.

Pua Tatih ikut dalam agenda pemetaan, karena dia tahu persis di mana lokasi primadona gurita-gurita bercokol.

Perahu mulai melambat di area pulau balean. Tidak jauh dari perkampungan. Hijau pepohonan mangrove menyambut. Di bawah, karang-karang besar nan asri mulai nampak. Rupanya ini merupakan salah satu lokasi penangkapan gurita.

Tujuh (7) ekor gurita tangkapan nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Kuwuk TImur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Foto: dokumen perkumpulan Japesda

“Di sini! Di sini gurita banyak! Di dalam karang-karang ini,” kata Pua Tatih.

Perahu berhenti. Jali lekas mengutak-atik GPS. Sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi lain. Ini merupakan kali kedua Japesda melakukan pemetaan.
Untuk sementara, ada 5 lokasi penangkapan gurita di Desa Uwedikan yang sudah masuk dalam database, masing-masing di area pulau balean, pulau dua, pulau marabakun, pulau putean dan pulau rep bilalang.

Penentuan titik-titik koordinat ini melibatkan langsung para nelayan. Mereka menunjuk sendiri di mana lokasi-lokasi yang menjadi wilayah tangkap mereka. Nelayan sangat antusias bekerja sama dengan Japesda. Mereka secara sukarela melibatkan diri dalam semua kegiatan.

“Sejauh ini, respon para nelayan sangat baik. Sejak awal kami sudah disambut dengan hangat. Bahkan, kami sudah dianggap sebagai keluarga sendiri,” terang Jali.

Selain itu, kata Jali, mereka selalu terbuka dengan data kepada semua nelayan. Setiap hari, nelayan bisa mengetahui trafic jumlah tangkapan gurita mereka sendiri, berat gurita, hingga jenis kelamin gurita itu sendiri.

“Semua yang kita lakukan di sini, muaranya kepada nelayan. Dan mereka (nelayan) sangat membantu,” katanya.

Belakangan tren hasil tangkapan gurita mulai meningkat. Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan 4-10 gurita. Namun, sejak awal pandemi COVID-19, mereka masih tertatih menjual gurita. Tidak hanya harga yang turun, tapi memang tidak ada pembelian hasil tangkapan gurita mereka.

Jumat (25/9/2020), tim Japesda mendatangi perusahaan ekspor gurita, PT. Indotropic Fishery, di Desa Biak, Kecamatan Luwuk. Perusahaan ini adalah satu-satunya yang menjadi harapan nelayan menjual gurita. Meski begitu, perusahaan ini juga menjadi salah satu yang paling terdampak dari pandemi yang terjadi.

Tim Japesda saat bertemu dengan Wakil Direktur PT Indotropic Fishery, Jumat (25/9/2020). Foto: dokumen perkumpulan Japesda

“Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor, semuanya menutup diri. Jadi kami juga tidak bisa apa-apa. Sama seperti nelayan,” keluh Eddy Handoko, Wakil Direktur PT. Indotropic Fishery, menjawab pertanyaan-pertanyaan nelayan yang disampaikan tim Japesda.

Eddy mengaku tahu persis keadaan nelayan. Dia berharap pandemi segera berlalu, atau kondisi segera cepat membaik, sehingga perusahaan dapat menerima lagi gurita dari nelayan.

“Jika kondisi membaik, kami prediksi bulan November nanti perusahaan kembali akan mengambil tangkapan nelayan,” katanya. ***