Memulihkan Terumbu Karang Rusak di Desa Uwedikan


Japesda – Perairan laut di Desa Uwedikan memiliki potensi ekowisata yang menjanjikan untuk dikelola masyarakat pesisir setempat, terutama dengan keindahan terumbu karangnya. Namun kondisi terumbu karang tersebut saat ini dalam kondisi rusak.

Berdasarkan survey terumbu karang yang dilakukan oleh Perkumpulan Japesda bekerjasama dengan peneliti dari Universitas Muhamadiyah Gorontalo pada tahun 2017, menyebutkan bahwa kondisi terumbu karang di kawasan Uwedikan secara umum masuk dalam kategori buruk.

“Kerusakan terumbu karang di daerah ini disebabkan oleh aktivitas pengeboman dan pembiusan ikan,” ungkap Mohammad Sayuti Djau, peneliti dari Universitas Muhamadiyah Gorontalo.

Menurutnya, rehabilitasi perlu dilakukan mengingat potensi kawasan yang sangat menjanjikan sebagai kawasan destinasi wisata. Potensi tiga ekosistem yaitu ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang sebagai pendukung keberlanjutan perikanan adalah modal utama yang dimiliki masyarakat di Desa Uwedikan.

Direktur Japesda, Nurain Lapolo mengatakan, salah satu upaya dalam menjaga kelestarian terumbu karang adalah dengan membuat kawasan konservasi perairan secara partisipatif. Hal lain yang tidak kalah penting menurutnya adalah membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran terumbu karang.

“Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya eksosistem terumbu karang perlu ditingkatkan. Sehingga masyarakat dapat berperan aktif secara langsung dalam menjaga kondisi terumbu karang,” kata Nurain Lapolo, akhir Maret 2020.

Untuk memulihkan kerusakan sumber daya pesisir tersebut, Japesda ikut menginisiasi pembuatan Daerah Perlindungan Laut (DPL) di Desa Uwedikan. Peraturan yang dibuat sepenuhnya berbasis masyarakat, khususnya para nelayan. Dalam kesepakatan kolektif itu, DPL diatur berdasarkan zonasi; zona inti, zona pemanfaatan berkelanjutan, dan zona penyangga.

Zona inti meliputi terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove. Di wilayah ini dilarang memancing, mengambil biota laut, membuang jangkar, menginjak karang, memanah, menggunakan pukat serta membom ikan. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah penelitian yang telah mendapat izin dari kelompok pengelola DPL Lambangan, pendidikan, serta pengawasan kelompok.

Apa yang terjadi di perairan laut di Desa Uwedikan hanyalah gambaran kecil dari apa yang terjadi di perairan laut Banggai secara umum. Pada bulan Juli 2019, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti ketika melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ikut menyorot masih maraknya aktivitas bom ikan di perairan laut Banggai tersebut.

“Meskipun laut Banggai bersih nan indah, masih banyak nelayan yang melakukan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing), dengan menggunakan potas atau bom. Hal ini membuat terumbu karang rusak dan mati,” kata Susi Pudjiastuti.

Sementara untuk skala nasional, dalam buku “Status Terumbu Karang Indonesia 2018” yang disusun oleh pusat oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyebutkan, dari total 1067 situs terumbu karang: 36.18% dalam keadaan buruk, 6.56% baik, sisanya ada di kategori cukup dan baik.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna laut yang menjadikannya pusat biodiversitas laut dunia. Berdasarkan citra satelit, diperkirakan luasan terumbu karang di Indonesia adalah 2,5 juta hektar.

Secara umum, jumlah genus terumbu karang paling banyak ditemukan di daerah timur Indonesia, seperti Sulawesi, Maluku, Halmahera, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan segitiga terumbu karang dunia yang merupakan pusat biodiversitas karang batu tertinggi di dunia.

Terumbu karang memiliki peranan penting sebagai habitat dan tempat memijah berbagai biota laut, pelindung pantai dari gempuran ombak, sumber benih budidaya, obat-obatan serta memiliki nilai estetika. Perairan Banggai dikenal dengan potensi perikanannya yang melimpah. Potensi tersebut akan tetap terjaga, jika ekosistem terumbu karang tetap terawat. ***