Mencontoh Madagaskar dalam Pengelolaan Perikanan Gurita Berkelanjutan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Indonesia memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Madagaskar, yakni negara kepulauan. Kedua negara ini bertengger di daftar paling atas pada peringkat negara kepulauan terbesar di dunia: Indonesia di peringkat pertama, disusul Madagaskar pada peringkat kedua. Namun, perihal pengelolaan perikanan, khususnya perikanan gurita, Indonesia patut mencontohi Madagaskar yang berhasil menaikkan taraf hidup masyarakat pesisir lewat metode perikanan berkelanjutan.

Dewasa ini, persediaan perikanan global semakin terancam habis. Warga Madagaskar yang sebagian besar merupakan nelayan, mulai menyadari ketika hasil tangkapan ikan makin ke sini makin sedikit. Sementara banyak rakyat Madagaskar mengandalkan samudra untuk bertahan hidup; bergantung dari hasil laut.

Atas keresahan dan kesadaran warga itulah, lembaga yang bergerak di bidang konservasi laut seperti Blue Ventures, masuk untuk memberikan intervensi solutif bagi masyarakat lokal. Yang paling kentara hasilnya adalah metode penutupan sementara penangkapan gurita.

Warga diedukasi terkait siklus hidup gurita. Tentang pentingnya tidak merusak terumbu karang yang menjadi habitat gurita, tempat gurita bertelur. Maka masyarakat harus menjaga kesehatan terumbu karang sebagai rumah gurita. Jika tidak, populasi spesis yang jadi sumber pendapatan mereka akan berkurang.

Menutup sementara wilayah penangkapan gurita akan meningkatkan jumlah dan ukuran gurita yang, muaranya tentu pada peningkatan pendapatan warga nelayan. Menangkap gurita yang belum bertelur dan masih kecil, serta gurita betina yang sedang mengerami telurnya termasuk praktik yang akan menipiskan jumlah gurita.

Lewat penutupan sementara 1 hingga 3 bulan, memberikan jeda untuk gurita berkembang dan bereproduksi dengan baik. Di Madagaskar, nelayan dilarang menangkap gurita secara besar-besaran. Pada periode itu warga benar-benar tidak bisa menangkap gurita, seperti tertuang dalam undang-undang Madagaskar nomor 1637/2005 yang menyatakan: “Dilarang menangkap gurita dengan cara apapun dari tanggal 15 Desember hingga 31 Januari di Pantai Barat Madagaskar.”

Manfaatnya, setiap kali wilayah penutupan sementara dibuka, jumlah gurita pun melimpah. Jika sebelum penutupan nelayan hanya menjual dua gurita dalam sehari, maka setelah penutupan sementara mereka bisa menjual sepuluh gurita dengan ukuran besar dalam sehari. Pendapatan nelayan melambung pesat. Melalui kerja sama pemerintah dengan masayarakat, garis kemiskinan di pesisir Madagaskar berangsur membaik.

Meski sedikit, beberapa wilayah di Indonesia sebenarnya sudah mengadopsi metode yang sama. Seperti halnya di Desa Darawa, Wakatobi, sulawesi Tenggara, masyarakat pesisir di sana melakukan penutupan sementara dengan pendekatan aturan adat setempat. Di beberapa tempat, kearifan lokal semacam ini tetap dipertahankan. Di Teluk Depapre, Papua, masyarakat adat menyebutnya dengan sistem tiatiki. Di Ambon, Maluku, model penutupan sementara dengan aturan adat ini disebut sasi.

Secara sederhana, sasi diartikan larangan mengambil sumber daya alam tertentu sebagai upaya menjaga kelestarian, kualitas dan populasi di alam. Sasi diatur dalam aturan-aturan adat menyangkut hubungan manusia dengan alam, dan hubungan antar-manusia dengan wilayah larangan.

“Hakikatnya, memelihara tata krama hidup bermasyarakat, agar terjadi pemerataan pendapatan dari hasil sumber daya alam bagi seluruh warga desa atau negeri,” kata Jefferson dari Yayasan Baileo Ambon.

Sejak awal tahun 2020, Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) melakukan pendampigan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai. Lewat dukungan Blue Ventures, Japesda akan mendampingi nelayan setempat dalam mengelola perikanan dengan penerapan sistim perikanan berkelanjutan. Salah satunya, akan mencoba mengedukasi masyarakat tanteang siklus hidup gurita hingga manfaat penutupan sementara.

Bayangkan jika metode ini diterapkan secara nasional. Akan banyak warga pesisir di  Indonesia yang tidak akan lagi bercokol dengan kemiskinan. Apalagi data Badan Pusat Statistik (BPS) dan International Trade Center (2020) menunjukkan, bahwa pada tahun 2018, nilai ekspor Cumi, Sotong dan Gurita (CSG) Indonesia merupakan peringkat ke-7 terbesar di dunia.***