Mendampingi Nelayan Menuju Normal Baru Corona, Seperti Apa?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Oleh: Nisa Syahidah, National Communications Officer Blue Ventures, Bali.

Unu Asumbo menghitung rupiah di tangannya. Ikan tangkapannya baru saja laku melalui platform online FishFresh, sebuah inisiatif organisasi Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) Gorontalo untuk memasarkan ikan secara daring bagi nelayan terdampak pandemi.

Unu adalah nelayan asal Desa Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Sebuah desa perkampungan suku Bajau yang berjarak sekitar 100 kilometer dari ibukota Pohuwato, Marisa. Nama desa ini pun konon berasal dari bahasa Bajau, toro artinya tanjung, dan siaje artinya persinggahan.

Seperti layaknya nelayan di berbagai wilayah di Indonesia, Unu ikut merasakan pahitnya dampak pandemi corona. Ditambah pergantian menuju musim selatan, baginya laut dengan gelombang tinggi tak terlalu bersahabat akhir-akhir ini. Pancing ulurnya biasanya mampu menangkap banyak ikan rumah-rumah, ikan bubara, kakap, dan tenggiri. Kini, mungkin hanya ikan rumah-rumah, atau tak dapat sama sekali.

Tangkapan nelayan Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk timur, Kabupaten Banggai saat masa pandemi Covid-19. Foto: Ikbal Karau/Japesda

 

Sebelum masa pandemi, Unu biasa menjual ikannya pada penampung lokal. Hidupnya berubah betul ketika penampung tak lagi beroperasi akibat pandemi. Rantai pasok perikanan berhenti namun tidak dengan kebutuhan hidup ia dan keluarga. Penghasilannya menurun drastis, seperti harga bubara dan kakap yang harganya jatuh lebih dari 50%.

Unu awalnya hanya menjual ikan di pasar lokal, atau dikonsumsinya sendiri dengan istri dan ketiga anaknya. Hingga kemudian ia bergabung dengan FishFresh yang menghubungkan nelayan dengan konsumen di Kota Gorontalo dan sekitarnya.

Dengan harga yang layak, Japesda memfasilitasi penjualan agar nelayan kecil mendapat apresiasi setimpal atas upaya menangkap ikan yang mereka lakukan dengan ramah lingkungan. Tanpa bom, tanpa potas.

“Kekhawatiran awal saya itu hasil tangkapan saya tidak akan terjual, tapi dibantu oleh FishFresh menjualnya ke kota,” kata Unu, Kamis (30/6/2020).

“FishFresh berjalan setelah kami melakukan pemetaan potensi perikanan di pesisir Gorontalo pada Maret lalu. Kami menemukan bahwa hasil tangkapan nelayan cukup melimpah, namun harga jualnya relatif rendah. Maka, kami berupaya membantu memasarkan produk nelayan melalui FishFresh, dan petani melalui Ramba-ramba online,” cerita Nur Ain Lapolo, Direktur Japesda.

“Tak hanya ini menguntungkan petani dan nelayan, tetapi juga memudahkan pembeli di Kota Gorontalo dengan hanya menunggu di rumah dan diantarkan pesanannya,” tambah Nur Ain.

Seorang nelayan tradisional Suku Bajau di Desa Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo bersiap untuk melaut. Masyarakat nelayan terdampak hidupnya karena pandemi COVID-19. Foto : Japesda

 

Pemberdayaan Nelayan Kalbar

Di Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat Alek dan Jaka merasakan hal yang sama. Sehari-hari, keduanya adalah nelayan yang menangkap kepiting, ikan, dan udang –satwa invertebrata– yang hidup di kawasan hutan mangrove Sungai Nibung. Alek sudah lebih dari 45 tahun menjadi nelayan. Sedangkan Jaka baru 20 tahun sebagai nelayan.

Alek dan Jaka merasakan betul dampak jatuhnya harga hasil tangkapan hingga 30%, hingga tak melaut karena tak dapat menjual hasil tangkapan. Keduanya adalah anggota Pelayanan Usaha Masyarakat Konservasi (PUMK). PUMK adalah program yang digagas Yayasan Planet Indonesia (YPI) di Kalimantan Barat untuk mendukung masyarakat pesisir menjaga sumber daya alam mereka melalui penguatan ekonomi rumah tangga.

Sudah tiga tahun mereka menjadi anggota PUMK. Alek dan Jaka belajar menabung dan merencanakan keuangan, sambil terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian alam bersama YPI. Mereka menjaga dan mengelola Hutan Desa Sungai Nibung, agar manfaatnya tetap berkelanjutan. Salah satunya melalui sistem buka tutup sungai (sasi), dimana masyarakat didukung oleh YPI menerapkan larangan penangkapan selama periode tertentu. Hal ini untuk memberi kesempatan untuk pemulihan habitat dan perkembangbiakan ikan, udang, dan kepiting. Keduanya juga ikut melakukan patroli mengawasi kawasan sungai saat ditutup.

Hari itu, wajah Alek dan Jaka tampak lebih ceria. Sebagai anggota PUMK, mereka berhak atas dana kesejahteraan sebesar Rp750.000 yang digelontorkan YPI untuk meringankan beban anggota kelompok PUMK di pesisir Kabupaten Kubu Raya dan di Kawasan Cagar Alam Gunung Niut, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Landak.

“Bantuan dana ini untuk membeli sembako dan modal membeli umpan untuk membubu kepiting. Dari awal saat mendapat bantuan, saya sudah bersedia untuk memanfaatkan uangnya dengan bertanggung jawab, seperti tidak membeli alat tangkap yang tidak ramah lingkungan atau ilegal,” kata Jaka, Jumat (3/7/2020).

Nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur sedang membuat alat tangkap. Foto: Ikbal Karau/Japesda

PUMK memang bertujuan memperkuat permodalan swadaya kelompok dalam pengembangan usaha yang produktif, serta memfasilitasi pemasaran hasil produksi yang berkelanjutan melalui skema Koperasi Konservasi yang diharapkan dapat mengatasi akar penyebab kehilangan keanekaragaman hayati pada ekosistem-ekosistem yang berisiko.

PUMK menghimbau anggotanya untuk tetap menyisihkan uang dari dana tersebut untuk menabung. “Saya jadi bisa membeli alat tangkap dari hasil tabungan di PUMK, tidak perlu lagi minjam uang pada pengepul atau pemilik bagan di desa,” cerita Alek.

“Saya juga harap ke depan PUMK di Sungai Nibung ini semakin maju dan meningkat agar tetap bisa menabung,” ucap Alek lagi pada Mizan, staf YPI di Kubu Raya.

 

Pendampingan holistik

Apa yang dilakukan Japesda dan YPI adalah salah satu bentuk pendekatan yang holistik dalam program konservasi bersama masyarakat. YPI secara holistik mengintegrasikan konservasi ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui dukungan antara hubungan masyarakat (sosial), ekonomi, dan alam (ekologi) secara berkelanjutan.

Selain mendukung masyarakat dalam konteks ekonomi, dalam konteks sosial, YPI menjalankan program kesehatan (Keluarga Sehat) untuk meningkatkan akses bagi perempuan dan kaum muda terhadap pelayanan kesehatan; dan pendidikan literasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan di usia dini dengan penyelenggaraan pendidikan paket (A, B, dan C).

Sementara dalam konteks ekologi, YPI mendorong pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan melalui program perikanan berkelanjutan yang bertujuan menjaga ekosistem di kawasan mangrove dengan melakukan sistem kawasan tutupan pesisir sementara berbasis konservasi dengan melibatkan masyarakat untuk melestarikan biota laut secara berkelanjutan, termasuk rehabilitasi kawasan mangrove.

“PUMK yang menjadi tulang punggung dari keseluruhan program kami untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dengan demikian akan berdampak pada pelestarian lingkungan dalam mendukung upaya konservasi secara luas di Kalimantan Barat,” ucap Miftah Zam Achid, Manajer Pemberdayaan Masyarakat, YPI.

“Saat ini kami sedang melakukan identifikasi kebutuhan di tingkat masyarakat, sehingga membantu kami dalam mengambil langkah-langkah strategis ke depan untuk memperkuat program dan ketahanan masyarakat,” tambah Miftah.

Pada musim selatan, banyak nelayan di Desa Uwedikan yang memarkir perahu. Foto: Ikbal Karau/Japesda

Sementara Japesda, memiliki mimpi yang tak kalah besarnya di Gorontalo. Juni lalu, harga ikan berangsur membaik, meskipun belum sepenuhnya stabil. Namun, akses pemasaran hasil tangkapan ikan nelayan sudah sedikit terbuka.

“Menyambut normal baru, divisi pengembangan ekonomi Japesda akan terus mengembangkan FishFresh dan Ramba-ramba online, dengan melihat peluang pasar dan kerja sama dengan beberapa mitra potensial untuk membantu nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil dan menengah dalam memasarkan produk secara online,” kata Ain.

Japesda juga menguatkan ketahanan masyarakat dengan memfasilitasi lapak kuliner pangan lokal komunitas desa dampingan. Misal berupa stik mangrove, abon ikan asin, sambal ikan roa, kripik singkong, pia cokelat, Virgin Coconut Oil (VCO) dan masih banyak lagi.

 

Menuju normal baru

Normal baru yang mulai diberlakukan di berbagai wilayah di Indonesia, membuat permintaan pasar kembali terbuka. Jaka dan Alek kini kembali melaut. Bagi Alek, normal baru berarti ia kembali bekerja dengan lebih waspada, tetap menjaga jarak dan memperhatikan kesehatan. Dia berharap ke depannya bisa beraktivitas tanpa dibayang-bayangi dengan rasa takut lagi.

Banyak harapan nelayan memasuki era normal baru. Bagi Jaka misalnya, ia ingin memiliki kapal baru untuk melaut, dengan hasil tangkapan yang juga membaik. “Saya harap nelayan terus dapat diperhatikan dan dibantu,” ungkap Jaka.

Unu juga kembali melaut seperti biasa, karena pasar lokal mulai dibuka dan pembeli juga mulai banyak, namun harga beli masih rendah. Kemungkinan, hal ini karena sebagian besar orang baik pembeli lokal, penampung ikan, dan masyarakat dari luar desa masih berusaha untuk pulih dari kondisi ekonomi yang cukup lemah di masa pandemi.

“Semoga ke depan, harga beli yang ditawarkan ke para nelayan penangkap ikan dengan cara ramah lingkungan bisa dihargai dengan harga yang cukup tinggi,” harap Unu.

Bagi Unu dan rekan nelayan di Gorontalo dan wilayah lainnya di Sulawesi Tengah seperti Kabupaten Banggai, normal baru semakin menantang dengan datangnya musim selatan. Pada musim ini, resiko nelayan ketika melaut semakin tinggi. Gelombang laut menyulitkan proses dan hasil penangkapan ikan, tantangan yang memang dihadapi nelayan setiap pertengahan tahun.

Ketika musim selatan, nelayan melaut dengan risiko tinggi. Foto: Ikbal Karau/Japesda

Sedangkan Jalipati Tuheteru, pendamping lapangan Japesda di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulteng mengungkapkan bahwa saat ini nelayan memilih untuk mengerjakan pekerjaan di darat untuk menambah pendapatan, misalnya membuat perahu atau menghabiskan waktu memperbaiki alat tangkap.

Dengan berbagai krisis yang menghadang nelayan di depan, penting bagi organisasi untuk meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dampingan. Misalnya saja, melalui diversifikasi mata pencaharian nelayan dan program perencanaan keuangan bagi keluarga nelayan.

“Tantangan ke depan bagi nelayan adalah dukungan akses pasar, bagaimana kondisi pasar dalam era normal baru ini bisa tetap stabil menyokong sumber ekonomi masyarakat nelayan,” ungkap Miftah.

“Kemudian, di tingkat lokal juga diperlukan adanya diversifikasi produk hasil perikanan, sehingga ketahanan ekonomi masyarakat bisa tetap terbangun di saat terjadinya kondisi krisis,” tambahnya.

Bila pendampingan dari organisasi secara holistik dapat dirasakan nelayan, bila diversifikasi mata pencaharian dan perencanaan keuangan bagi nelayan dapat menjadi bagian dari normal baru. Maka semoga ke depannya hidup akan menjadi setidaknya sedikit lebih mudah bagi mereka di pesisir sana – lebih mudah menjaga penghidupan, dan menjaga alam.

Sekelompok nelayan Desa Bangga, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Gorontalo bersiap untuk melaut. Foto : Japesda

***

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Tulisan ini juga sudah tayang sebelumnya di Mongabay.co.id, 7 Agustus 2020.