Mengenal Metode dan Alat Tangkap Gurita khas Nelayan Uwedikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Gurita menjadi salah satu komoditas ekspor terbesar di Indonesia. Potensi yang diharapkan bisa membantu meningkatkan taraf hidup para nelayan atau masyarakat pesisir pada umumnya. Di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah terdapat 20 nelayan aktif penangkap gurita. Masing-masing merupakan warga suku Bajo dan warga lokal, suku Salakan.

Metode penangkapan dan alat tangkap gurita sering kali berbeda-beda di tiap entitas nelayan. Biasanya, nelayan di Uwedikan turun melaut untuk menangkap gurita dari pukul 07.00 WITA sampai pukul 11.00 Wita, tergantung cuaca. Jika cuacanya buruk, bisa jadi akan lebih lama.

Waktu yang dibutuhkan nelayan untuk menuju lokasi penangkapan gurita bisa mencapai 30-35 menit, dengan menggunakan perahu tradisional atau yang biasa disebut perahu batang: perahu yang terbuat dari kayu yang dilengkapi mesin ketinting. Sekali turun melaut, para nelayan harus merogoh kocek sekira 50 ribu rupiah untuk keperluan bahan bakar dan kebutuhan lainnya.

Sementara itu, jenis alat tangkap yang sering digunakan nelayan di Uwedikan untuk menangkap gurita adalah Manis-manis, Gara-gara dan panah. Menurut salah seorang nelayan, Irham Summang, yang terpenting dalam memilih jenis alat tangkap adalah alat yang tidak merusak karang sebagai habitat gurita.

“Kalau saya biasa pakai Gara-gara. Karena tidak perlu bongkar-bongkar karang lagi, itu yang kita jaga,” kata pria yang biasa disapa Jon itu.

Jenis alat tangkap manis-manis berbentuk seperti gurita yang dikelilingi oleh beberapa kain yang telah disobek. Alat tangkap ini memiliki ukuran dengan panjang 50 cm: lebar kepala 10 cm serta lebar badan mencapai 15 cm. Manis-manis biasa dioperasikan pada saat kondisi cuaca cerah. Jumlah tangkapan yang biasa didapatkan dengan menggunakan alat tangkap manis-manis bisa mencapai 10 ekor, bahkan lebih, jika musim gurita melimpah.

Kemudian, jenis alat tangkap Gara-gara berbentuk seperti kepiting, di bagian ekor memiliki mata pancing, serta terdapat 2 tangan dan 2 kaki yang semuanya dililit dengan kawat. Ukuran alat tangkap ini memiliki panjang mencapai 25 cm dan lebar mencapai 7 cm. Gara-gara biasa dipakai ketika cuaca kurang bagus, terutama saat kondisi air sedang keruh yang diakibatkan oleh banjir atau faktor lainnya. Jumlah tangkapan yang biasa didapatkan ketikka memakai alat ini mencapai 20 ekor dalam satu kali turun melaut.

Alat tangkap panah biasa digunakan di permukaan laut yang dangkal, pada kedalaman sekitar 5 meter. Panah yang nelayan Uwedikan gunakan terbuat dari pipa paralon serta beberapa karet sebagai bahannya. Alat tangkap “mainstream” ini memiliki panjang mencapai 1-1,5 meter. Jumlah tangkapan yang biasa diperoleh bisa mencapai 8-10 ekor gurita.

Seperti halnya banyak jalan menuju Roma, banyak cara pula untuk mewujudkan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya dengan memakai alat tangkap yang ramah lingkungan seperti yang dilakukan para nelayan di Uwedikan. Menjaga kelestarian karang sama halnya menjaga kehidupan. Karena karang merupakan habitat gurita dan biota laut lainnya.

Pengumpulan data soal soal kondisi terumbu karang pada periode 1993-2015 di Indonesia dilakukan oleh LIPI dengan mengambil sampel 93 daerah dan 1.259 lokasi. Hasilnya menyatakan kondisi terumbu karang semakin menurun terutama di wilayah Indonesia Timur. LIPI mencatat hanya 4,64 persen terumbu karang di Indonesia berstatus sangat baik, 21,45 persen baik, 33,62 persen buruk, dan 40,29 persen jelek.

Temuan ini tentu mengkhawatirkan, karena ekosistem terumbu karang Indonesia yang diperkirakan mencapai 75 ribu kilometer persegi ini mewakili 15 persen terumbu karang dunia.