Menggali Potensi Perikanan Uwedikan di Pesisir Kabupaten Banggai


Japesda – Desa Uwedikan merupakan salah satu dari 13 (tiga belas) desa pesisir yang berada di kawasan Teluk Tolo. Secara administratif, Uwedikan merupakan bagian dari Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Desa Uwedikan memiliki ciri khas tersendiri, yakni sebagai desa pesisir yang ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) oleh Pemerintah Kabupaten Banggai pada tahun 2002.

Di kemudian hari, dalam Perda RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil) Sulawesi Tengah 2017-2037, wilayah di Uwedikan ini berubah menjadi kawasan pemanfaatan umum wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam Perda tersebut dijelaskan bahwa kawasan pemanfaatan umum berupa zona pariwisata, permukiman, pelabuhan, hutan mangrove, pertambangan, zona perikanan tangkap, perikanan budidaya, pergaraman, bandar udara, fasilitas umum, pertahanan keamanan, serta zona jasa atau perdagangan.

Sebagaimana karakteristik wilayah pesisir pada umumnya, Uwedikan secara alami menjadi pembatas antara daratan dan lautan. Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, biasanya paling dominan melakukan aktifitas sosial ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya laut.

Tapi sebaliknya, sebagian warga Uwedikan justru menjadikan profesi nelayan sebagai pekerjaan sampingan. Bertani, masih menjadi mata pencaharian utama. Memang hal itu juga didukung dengan kondisi permukaan tanah Desa Uwedikan yang relatif datar. Akan tetapi, dengan potensi perikanan yang melimpah ruah, bukankah seharusnya mereka tidak bergantung pada sektor pertanian?

Dilematis yang dihadapi warga Uwedikan sebenarnya adalah persoalan klasik yang dihadapi nelayan Indonesia. Kendala yang sering dihadapi oleh para nelayan tradisional utamanya ada pada pemasaran. Sistem pemasaran hanya menguntungkan para tengkulak, pemodal besar, atau juragan. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dijual dengan harga yang ditentukan sendiri oleh bakul, dan biasanya lebih rendah dari harga ikan di Tempat Pelalangan Ikan (TPI).

Ernani Lubis, Anwar Bey Pane, Retno Muninggar, dan Asep Hamzah (2012), dalam penelitian berjudul Besaran Kerugian Nelayan Dalam Pemasaran Hasil Tangkapan, menyimpulkan, pendapatan nelayan berkurang cukup berarti sebagai akibat peminjaman modal melaut kepada lembaga non formal seperti tengkulak.

Metode penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan juga dewasa ini masih menjadi soal. Di laut Banggai, masih marak pelaku bom ikan. Aktivitas pengeboman ikan berdampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem laut. Utamanya kepada warga yang menggantungkan hidup dari hasil laut.

Di laut Uwedikan, tidak sulit menemukan jenis-jenis ikan tangkap seperti: ikan tuna, ikan layang (lajang), bahkan gurita. Yang belakangan menjadi sulit adalah, mengonversi kekayaan laut untuk menaikkan taraf hidup para nelayan. Dan, tentu saja, dengan pengelolaan yang berkelanjutan.

Foto: Dokumentasi Japesda

“Desa Uwedikan memiliki potensi besar dalam sektor sumber daya alam pesisir dan laut, seperti hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang serta hasil perikanan tangkap seperti ikan karang dan juga gurita. Potensi ini perlu digali lagi untuk memperkuat perikanan di Kabupaten Banggai,” ungkap Nurain Lapolo, Direktur Japesda Gorontalo, awal Maret 2020.

Japesda atau Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam adalah sebuah lembaga non pemerintah dari Gorontalo yang melakukan kerja-kerja pendampingan di Desa Uwedikan sejak tahun 2017. Menurut Nurain, potensi perikanan di Uwedikan mampu memberikan sumbangsih pada perikanan yang ada di Kabupaten Banggai.

Seperti diketahui, perairan laut Banggai menjadi jalur migrasi ikan tuna, tepatnya dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Tak heran, pada September 2019, Banggai dijadikan sebagai tuan rumah lomba memancing internasional bertajuk Banggai International Tuna Fishing Tournament 2019.

Selain itu, di perairan sekitar pulau Banggai terdapat ikan endemik Capungan Banggai (Pterapogon kauderni), atau populer dikenal dengan sebutan Banggai Cardinal Fish (BCF). Jenis ikan yang belakangan masuk dalam kategori terancam punah.

BCF adalah ikan hias asli Indonesia yang hanya ditemukan di perairan laut Banggai. Ikan ini umumnya dijumpai pada hamparan padang lamun (Enhalus acoroides) di dalam teluk yang tenang. Karena keunikan dan keendemikan yang dimilikinya, ikan ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Sayangnya, dalih ekonomis tersebut membuat ikan ini diburu secara berlebihan. Yang akhirnya menyebabkan penurunan populasi BCF secara drastis.

Dalam rangka menjaga dan menjamin keberadaan dan ketersediaan populasi BCF. Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan Status Perlindungan Terbatas Ikan BCF, melalui Kepmen KP Nomor. 49/KEPMEN-KP/2018: dilarang melakukan penangkapan pada bulan pemijahan yaitu bulan Februari, Maret, Oktober dan November pada kawasan yang telah ditentukan.

Sebagian besar warga Kabupaten Banggai memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banggai, jumlah nelayan yang ada di Banggai berjumlah 7.715, dan Uwedikan menjadi salah satu desa pesisir yang menyimpan potensi perikanan yang menjanjikan.***