Mengintegrasikan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan dan Pariwisata di Uwedikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki karunia kekayaan sumber daya laut melimpah dan keindahan alam khas wilayah pesisir. Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah memiliki kedua potensi tersebut.

Hampir setahun terakhir melaksanakan program pengelolaan perikanan berkelanjutan di Uwedikan, data Japesda—khusunya untuk perikanan gurita–setidaknya menunjukkan potensi besar perikanan di desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan ini: Uwedikan menjadi salah satu penyuplai ekspor gurita.

Sementara itu, Uwedikan juga merupakan salah satu desa wisata di Sulawesi Tengah. Namun, sayangnya, tidak ada pengembangan lanjutan sejak ditetapkan sebagai desa wisata, sehingga keberadaan potensi wisata di desa ini pun tidak dimaksimalkan dengan baik. Padahal, wisata bisa saja menjadi ekonomi alternatif  bagi masyarakat.

Kekayaan sumber daya laut berbanding terbalik dengan kesejahteraan masyarakat pesisir, khusunya bagi nelayan kecil atau nelayan tradisional. Sebuah riset menunjukkan, nelayan sebagai salah satu profesi paling miskin di Indonesia Indonesia: Sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin.

Melihat adanya fenomena tersebut, selain mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, Japesda juga menginisiasi pengembangan pariwisata di Desa Uwedikan, atau lebih tepatnya menghidupkan kembali desa wisata yang “mati suri” itu. Lalu, bagaimana mengintegrasikan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan dengan pariwisata?

“Ekowisata. Jadi, selain memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, pengelolaannya nanti akan mengedepankan pelestarian lingkunan dan budaya setempat,” kata Christopel Paino, Program Manager Japesda di Desa Uwedikan.

Konsep ekowisata yang dicanangkan, lanjut Chris, adalah ekowisata berbasis masyarakat, ekowisata yang menitikberatkan peran masyarakat. Masyarakat terlibat penuh baik dalam pengelolaannya maupun keuntungan dari perjalanan wisata di Desa Uwedikan.

Sebelumnya, Japesda sendiri sudah mengadakan pertemuan untuk melakukan sosialisasi tentang konsep ekowisata berbasis masyarakat ini kepada masyarakat dan pemerintah desa setempat. Kemudian dilanjutkan ke tingkat Kabupaten Banggai.

Chris menjelaskan,  pengembangan ekowisata harus benar-benar dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan pengelolaan yang cermat, tidak terjebak atau tergiur pada keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi harus berpedoman pada pengembangan berkelanjutan.

“Hal yang paling penting dari ekowisata adalah pelestarian lingkungan itu sendiri. Seperti menjaga karang yang merupakan salah satu potensi keindahan bawah laut di Uwedikan. Ini juga berhubungan erat dengan pengelolaan perikanan berkelanjutan,” tuturnya.

Selain itu, Japesda juga mendorong agar masyarakat Uwedikan tidak menjadikan laut sebagai tempat sampah. Sampah laut (marine debris) memang masih menjadi masalah besar di seluruh dunia, terutama sampah jenis plastik, karena dapat membahayakan perikanan dan pengembangan pariwisata.

“Mereka (masyarakat) sepakat. Bahkan akan mendukung jika ada regulasi tentang pelarangan pembuangan sampah di laut,” ujar Chris.