Merayakan Hari Gurita Bersama Nelayan dan Masyarakat Pesisir

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Memperingati Hari Gurita Internasional, Jumat (8 Oktober 2021), Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (JAPESDA) membuat perayaan bersama nelayan dan masyarakat di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Tujuan perayaan hari gurita adalah untuk merayakan keanekaragamannya, konservasi, dan biologi-nya. Di Indonesia pemanfaatan gurita dilakukan oleh nelayan skala kecil dengan penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan serta didominasi oleh jenis octopus cyanea

Kegiatan dibuka pukul 09:00 WITA, dimulai dengan pemberian materi teknis soal transplantasi karang oleh Samsu Adi Rahman, dosen fakultas perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, juga tenaga ahli dalam bidang transplantasi terumbu karang . Dirinya menjelaskan tentang betapa pentingnya terumbu karang bagi gurita, maupun perikanan lainnya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak menjaga terumbu karang. Karena keduanya—gurita dan terumbu—saling keterkaitan dan keterikatan.

“Terumbu karang itu kan rumah bagi gurita. Coba kalau kita rumahnya rusak, dihancurkan, kita juga pasti akan pindah dan mencari tempat lain,” ujar Adi.

Nelayan diberi penjelasan bagaimana cara melakukan transplantasi hingga dan pentingnya melakukan pengawasan. Setelah itu, nelayan mempraktikan langsung dan didampingi konsultan. Ada sekitar 20 modul tanam terumbu karang yang akan ditanam dalam beberapa hari ke depan.

Pukul 11.00 WITA, praktik selesai, dilanjutkan dengan istirahat sholat makan (ISHOMA). Semua yang hadir menikmati kuliner lokal seperti onyop, sinole, dan beberapa makanan tradisional yang berbahan dasar gurita.

Bakda Shalat Jumat, kegiatan berlanjut dengan menampilkan tarian UWEDIPUS (Uwedikan Oktopus). Semua gerakan dalan tarian ini adalah imajinasi dari para anak-anak pesisir yang terlibat. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka tahu mengenai gurita, mereka tunjukkan melalui gerakan dan gerakan itulah yang dipakai.

Tari UWEDIPUS bercerita tentang bagaimana eksploitasi besar-besaran terhadap gurita dan terumbu karang. Gurita makin berkurang bahkan menghilang, hingga akhirnya nelayan tersadarkan, dan mulai menjaga gurita melalui pengelolaan yang berkelanjutan. Persis seperti apa yang didorong JAPESDA selama hampir dua tahun di Desa Uwedikan.

Di sesi sharing session bertema “Pengelolaan Perikanan Skala Kecil”, nelayan dan pemerintah desa memberikan testimoni tentang program perikanan gurita di Desa Uwedikan. Tak hanya itu, ada juga Dekan Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah Luwuk, Erwin Wuniarto yang menjadi pembanding dan menjelaskan soal kajian-kajian ilmiah soal gurita.

“Saya mendukung dengan apa yang dikerjakan oleh teman-teman japesda di Uwedikan ini,. Apalagi soal model pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Ini sebuah model pengelolaan perikanan tangkap yang baik untuk masyarakat dan nelayan, apalagi soal perikanan gurita,” kata Erwin.

Dia juga mengajak kerjasama JAPESDA dan nelayan untuk bagaimana memasarkan hasil tangkapan gurita nelayan langsung ke pihak-pihak perusahaan. Membantu nelayan agar dapat meningkatkan ekonomi mereka, juga bisa memutus rantai distribusi yg panjang antara nelayan, pengepul, dan perusahaan.

Kepala Urusan (KAUR) Pemerintahan, Arif Pampawa menjelaskan bahwa pemerintah desa selalu mendukung kegiatan Japesda,  apalagi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perikanan gurita, karena sesuai dengan visi dan misi Pemdes Uwedikan yakni meningkatkan perekonomian masyarakat nelayan.

Sementara itu, Irham Summang, salah seorang nelayan gurita di Desa Uwedikan mengakui program perikanan gurita banyak mengedukasi mereka. Ia memberi contoh, beberapa waktu lalu, ia dan beberapa nelayan diajak ke Desa Darawa, Wakatobi, untuk melihat langsung bagaimana pengelolaan perikanan gurita yang ada di sana.

“Soal metode buka tutup sementara dan kami menyaksikan sendiri hasil nelayan di sana sangat baik. Dan ketika kami lakukan di sini, saya melihat lubang-lubang gurita di karang sudah mulai ada dan banyak, dan itu belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya.

Irham pun berharap, JAPESDA akan selalu memberikan masukan kelompok pengawas terkait kerja pengawasan lokasi tangkap gurita yang sebulan yang lalu ditutup.

Rangkaian perayaan hari gurita ditutup dengan pembacaan puisi dari komunitas Babasal Mombasa, komunitas literasi yang di Kabupaten Banggai. Hari gurita internasional kali ini, JAPESDA mengambil tema besa “Gurita Untuk Kehidupan”. Gurita bisa menjadi pintu masuk dalam menjaga kelestarian terumbu karang serta menjadi penopang dalam menunjang perekonomian masyarakat, khususnya nelayan skala kecil.***