Musim Gurita: Tangkapan Melimpah, Harga Masih Rendah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Sejak awal Oktober, perahu-perahu nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah mulai dipenuhi gurita. Nelayan di sana memang sudah tahu persis–memasuki akhir tahun seperti saat ini merupakan momentum terbaik menangkap gurita. Mereka menandai dan menyebutnya dengan Musim Gurita.

“Nanti kalau sudah musim(gurita), kamu akan muntah melihat gurita.”

Indira Moha (26) masih ingat betul celoteh para nelayan itu, ketika ia bersama tim Perkumpulan Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) baru tiba di Desa Uwedikan dan mulai berinteraksi dengan masyarakat di sana. Sebagai enumerator yang aktivitas hari-harinya melakukan pendataan hasil tangkapan gurita, dia merasakan langsung dampak dari musim gurita ini.

“Mulai akhir september jumlah tangkapan gurita mereka(nelayan) sudah mulai terlihat meningkat. Pas masuk Oktober, saya kaget, ternyata ini yang sering nelayan sebut sebagai musim gurita,” ujar Indira.

Dia mengaku lebih sibuk dari sebelumnya. Selain jumlah tangkapan yang meningkat drastis, jumlah nelayan yang aktif melakukan penangkapan gurita juga bertambah.

Dari data yang sudah dihimpun Indira, pada bulan September, paling tinggi nelayan bisa menangkap 7 gurita dalam sehari. Sementara pada bulan Oktober ini, tangkapan mereka rata-rata mencapai 10 hingga 11 gurita dalam sehari.

Sayangnya, limpahan tangkapan gurita ini masih berbanding terbalik dengan harganya. Sebagaimana informasi yang didapatkan dari pengepul gurita di desa setempat, saat ini gurita dihargai Rp. 15.000 – Rp. 23.000, sesuai ukuran. Memang sedikit lebih mahal dari periode awal pandemi Covid-19 yang harganya turun drastis  hingga Rp. 8.000 – Rp. 15.000. Namun, harga tersebut belum sepenuhnya normal seperti tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp. 35.000 – Rp. 40.000.

Kondisi ini membuat nelayan, khususnya nelayan kecil, terhimpit di antara minimnya pendapatan dan kebutuhan. Terlebih pada masa-masa krisis seperti sekarang. Rasa-rasanya, pendapatan nelayan gurita hanya cukup untuk biaya operasional melaut saja. Alih-alih untuk kebutuhan keluarga.

Salah satu penyebab tidak stabilnya harga gurita ini adalah tertutupnya akses ekspor Indonesia.

“Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor, semuanya menutup diri. Jadi kami juga tidak bisa apa-apa. Sama seperti nelayan,” keluh Eddy Handoko, Wakil Direktur PT. Indotropic Fishery, saat tim Perkumpulan Japesda bertandang ke kantornya, akhir September lalu.

Dari hasil pertemuan tersebut, Eddy memprediksi perusahaan yang digawanginya akan kembali buka dan menerima hasil tangkapan gurita dari nelayan, pada akhir November nanti.

“Jika kondisi benar-benar membaik,” katanya waktu itu.

Enumerator, Indira Moha (26), saat melakukan pengukuran gurita hasil tangkapan nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Selain bertugas mendata jumlah hasil tangkapan, Indira juga mencatat hal-hal spesifik lain berupa lokasi penangkapan; alat tangkap yang dipakai nelayan; waktu penangkapan; berat dan panjang gurita; bahkan jenis kelamin gurita.

Indira lahir di wilayah pesisir Kabupaten Bolaangmongondow Selatan, Sulawesi Utara. Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat laut, melihat perahu, melihat nelayan dan ikan, atau aktivitas-aktivitas biasanya di pesisir. Satu-satunya yang baru disadari Indira adalah kenyataan memilukan yang dihadapi nelayan-nelayan kecil.

“Awalnya saya mengira kesulitan nelayan hanya sebatas badai atau musim buruk yang membuat mereka tidak bisa melaut. Setelah bertemu dan menyaksikan langung, ternyata banyak yang membuat mereka menderita,” ungkap Indira.

Di masa pandemi ini, Indira justru melihat peran perempuan atau istri-istri nelayan yang berjuang membuat “asap dapur tetap mengepul”. Diceritakannya, beberapa istri nelayan bahkan ikut turun melaut. Ada juga yang mencari sumber pendapatan lain, seperti menjadi tukang urut, maupun mengambil upah dari mencuci baju tetangga.

Indira baru bergabung dengan Perkumpulan Japesda. Ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi enumerator dan mendampingi nelayan. Dia berharap ada perhatian serius kepada nelayan kecil, terutama soal tidak menentu dan rendahnya harga beli hasil tangkapan mereka.

“Sama seperti harapan-harapan nelayan yang sering saya dengar,” katanya.***