Musim Selatan Datang, Nelayan Meradang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Belum usai Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) melumpuhkan penghidupan nelayan, kini, ancaman lain datang. Adalah musim selatan, musim ekstrim di mana gelombang air laut naik, sehingga nelayan harus mempertimbangkan resiko ketika beraktivitas melaut.

Pandemi Covid-19 dan musim selatan jelas berbeda. Pandemi adalah krisis kesehatan, sementara musim selatan faktor cuaca (musiman). Namun, saat ini, keduanya sama-sama mempengaruhi pendapatan nelayan. Jika Pandemi berdampak pada pemasaran hasil tangkapan nelayan, musim selatan justru menyulitkan proses dan hasil penangkapan ikan. Saat ini nelayan dikepung Pandemi dan musim Selatan.

Sejak Covid-19 melanda, harga tangkapan ikan nelayan merosot drastis. Contohnya Gurita: dari yang semula seharga 35 ribu rupiah, turun menjadi 8 ribu rupiah. Hal itu disebabkan oleh ditutupnya akses pasar dengan kebijakan “Lockdown” ataupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah.

Musim selatan bukan hal yang baru bagi nelayan. Setiap pertengahan tahun, mereka bahkan sudah mempersiapkan diri. Seperti diungkapkan Jalipati Tuheteru, field staff (pendamping lapangan) Jaring Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA). Nelayan di wilayah dampingannya di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai saat ini tengah dilema untuk turun melaut.

“Sejak awal Juni, nelayan sudah menahan diri turun ke laut. Karena resiko di musim ekstrim ini sangat tinggi. Sementara, mereka (nelayan) juga butuh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Jali.

“Ada juga yang masih melaut, tapi dengan alat tangkap tertentu, seperti Pukat.”

Jali menjelaskan, saat ini nelayan memilih untuk mengerjakan pekerjaan di darat untuk menambah pendapatan. Misalnya membuat perahu atau menghabiskan waktu memperbaiki alat tangkap.

Hasil tangkapan para nelayan dapat diketahui dari minimya stok yang diterima pengumpul. Menurut salah seorang pengumpul di desa setempat, kata Jali, akhir-akhir ini stok ikan kosong, khususnya Gurita. “Pernah dalam dua hari, Pak Zainudin (pengumpul) mengaku tidak ada sama sekali nelayan yang menjual ikan kepadanya.”

Pada Webinar bertema “Dampak Covid-19 Bagi Nelayan dan Strategi Menghadapinya” yang dilakukan JAPESDA, Rabu (20 Mei 2020) kemarin, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP sempat menyorot dampak jangka panjang Covid-19 bagi nelayan. Menurut Zulfikar Mochtar, pada akhirnya nelayan tidak akan memiliki biaya operasional, atau bahkan enggan melaut.

“Titik kritis ini perlu intervensi prioritas agar siklus terpotong atau dampaknya tidak terlalu jauh,” jelasnya.

Pemerintah sendiri, kata Zulfikar, sudah merancang beberapa strategi kebijakan yang telah dan akan terus dilakukan. Salah satunya adalah memberikan stimulus usaha melalui relaksasi kebijakan perikanan tangkap kepada nelayan, khususnya nelayan kecil.

Sementara pada kegiatan Webinar yang sama, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, M. Arif Latjuba menyampaikan, dari tahun 2017 hingga tahun 2019 nilai tukar hasil nelayan tangkap di Sulawesi Tengah cenderung menurun. Apalagi ditambah dengan adanya Pandemi Covid-19.

“Beberapa waktu lalu, kami berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten dan Kota untuk menyiapkan pasar murah untuk memfasilitasi nelayan. Kami juga menyisihkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk dialokasikan kepada nelayan,” katanya.

Hingga pertengahan Juni ini, harga ikan berangsur membaik, meskipun belum sepenuhnya stabil. Setidaknya, akses pemasaran hail tangkapan ikan nelayan sudah sedikit terbuka. Namun, dengan datangnya musim selatan dan ketidakpastian kapan Pandemi berakhir, lagi-lagi nelayan harus diperhadapkan dengan situasi suram.***

Sumber foto: http://www.pusatkrisis.kemkes.go.id/gelombang-pasangbadai-di-tulungagung-jawa-timur-05-05-2016