Nelangsa Nelayan Gurita Uwedikan di Tengah Pandemi Covid-19


Japesda – Dampak Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) telah melumpuhkan setiap sektor kehidupan masyarakat di Indonesia, tak terkecuali bagi para nelayan. Di beberapa daerah, bahkan, para nelayan memilih untuk tidak melaut karena hasil tangkapan mereka tertumpuk-tumpuk tanpa ada yang membeli.

Hal serupa memang tidak dilakukan oleh nelayan-nelayan yang berada di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Mereka pergi melaut seperti biasa. Namun, meski begitu, dampak wabah Covid-19 tetap saja berujung nelangsa bagi masyarakat pesisir Banggai ini.

Sejak Covid-19 mulai mewabah di daerah-daerah, pertengahan Maret lalu, Desa Uwedikan termasuk salah satu desa yang menerapkan “Lockdown”. Meskipun, menurut Kepala Desa Uwedikan, kebijakan yang diambil itu tidak serta-merta sepenuhnya mengunci total desa.

“Tidak ada yang keluar-masuk kampung. Kami melakukan pembatasan, walaupun belum ada Orang Dalam Pengawasan (ODP) di kampung ini,” kata Lapulo Kepala Desa Uwedikan, Kamis 16 April 2020. Ia menyebut, warganya yang berprofesi sebagai nelayan harus menelan “pil pahit” karena belakangan harga ikan juga turun.

Benar saja, salah seorang nelayan di Desa Uwedikan, Irham Summang mengatakan, situasi saat ini memang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bukan hanya harga ikan yang turun drastis, pembeli pun antara ada dan tiada.

“Sebelum ada Korona masih mendingan (beberapa tahun belakangan harga ikan memang naik turun). Tapi, sekarang, turun paling bawah, paling rendah,” ujar pria yang biasa disapa Jhon, Kamis, 16 April 2020.

Jhon adalah nelayan yang biasa menangkap Gurita. Di Desa Uwedikan, ada sekira 30 nelayan yang merupakan spesialis nelayan Gurita. Nelayan di sana menggunakan alat tradisional gara-gara atau manis-manis untuk menangkap Gurita, menggunakan perahu dengan mesin ketinting. Harga Gurita, seperti diungkapkannya, turun sampai hampir 75 % lebih. Dari yang biasanya dibeli seharga 35 ribu rupiah, sekarang harganya tinggal 7 ribu sampai 8 ribu rupiah.

“Yang beli sih ada. Kalo sebelumnya dapat 5 tusuk pasti laku semua. Sekarang, Cuma laku satu-dua tusuk saja, sisanya ditampung. Syukur kalo memang ada yang beli, kalo tidak, ya, jadi garam.”

Jhon mengaku kelimpungan untuk mencari pendapatan, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Harga ikan turun, tapi harga bahan kebutuhan pokok seringkali naik.

Hasil tangkapan nelayan Gurita Uwedikan biasanya dijual kepada pengumpul di desa, sebelum akhirnya disuplai ke pengepul besar seperti perusahaan PT Indotropic. Indotropic adalah perusahaan ekspor ikan yang berkantor di Desa Biak, Kecamatan Luwuk Utara, Kabupaten Banggai. Perusahaan inilah yang mengekspor hasil ikan tangkapan nelayan di Uwedikan, dan nelayan di Banggai pada umumnya—langsung menuju ke beberapa negara seperti Amerika.

Kepelikan yang dialami nelayan, juga dirasakan pengepul. Dalam sambungan telepon, Surabaya, pemilik Indotropic, Nimi mengutarakan bahwa wabah Covid-19 ini juga sedikit banyak berdampak bagi perusahaan. Disampaikannya, distribusi ikan sekarang hanya ke super market saja.

“Saat ini kami memang masih buka. Tapi kemungkinan minggu depan kita akan tutup. Karena di luar negeri sudah tidak ada yang meng-order. Mereka sudah “lockdown” sejak bulan kemarin,” kata Nini.

Ini bukan hanya dirasakan perusahaan perikanan saja, lanjut Nini, semua perusahaan terkena imbasnya. Menurutnya, saat ini harga ikan khususnya gurita bukan hanya turun, tapi memang sudah tidak ada lagi yang membeli.

“Kita berproduksi, tapi tidak ada yang beli. Terus kita mau mati numpuk stok?”

Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Susan Herawati mengatakan, keluarga nelayan dan pelaku sektor perikanan rakyat lainnya kini menjadi kelompok yang paling rentan oleh dampak Covid-19.

“Pemerintah diharapkan untuk segera memberikan perhatian kepada keluarga nelayan dan pelaku perikanan rakyat lainnya yang rentan terdampak,” kata Susan, Kamis (2/4/2020).

Dia menilai, pemerintah wajib mengalokasikan dana perlindungan khusus untuk keluarga nelayan yang pendapatannya menurun akibat penyebaran wabah tersebut.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menegaskan, Negara akan terus hadir untuk menjaga situasi sekarang yang dinilai akan memicu dampak negatif pada produktivitas perikanan.

Wabah COVID-19 yang sedang menjadi pandemi di seluruh dunia, mendorong sektor kelautan dan perikanan di Indonesia untuk segera menyiapkan langkah antisipasi. Ada sejumlah skenario yang sudah disiapkan oleh Pemerintah Indonesia, jika dampak pandemi terasa signifikan pada perikanan budi daya dan juga kinerja ekspor.

“Kita tidak menampik adanya sejumlah kekhawatiran mengenai imbas wabah COVID-19 ini terhadap kinerja produksi dan ekspor perikanan. Sampai sekarang kita terus memantau dan memastikan, sekaligus melakukan langkah-langkah antisipatif jika ada tren penurunan ke depan,” ungkap Edy, akhir pekan lalu dalam rilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Jakarta.**