Peran Masyarakat Pesisir dalam Keberlanjutan Pengelolaan Perikanan Gurita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Peran atau partisipasi masyarakat pesisir dan nelayan adalah kunci bagi keberhasilan konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan gurita. Hal tersebut diungkapkan Koordinator Kelompok Perlindungan dan Pelestarian Jenis Ikan-Kementerian  Kelautan dan Perikanan, Pingkan R. Roeroe, pada webinar bertema “Potret Perikanan Gurita di Indonesia”, Rabu (18/11/2020).

Pingkan menjelaskan, masyarakat pesisir dan nelayan bersentuhan langsung dengan habitat dan sumberdaya  perairan. Apalagi wilayah perairan Indonesia sangat luas, sementara jumlah sumberdaya manusia (SDM) dan sarana yang dimiliki pemerintah sangat terbatas.

Salah satu permasalahan perikanan gurita di Indonesia, lanjut dia, adalah penurunan jumlah atau ukuran hasil tangkapan (overfishing) dan kerusakan habitat.

“Seperti yang sudah dilakukan di beberapa tempat. Masyarakat pesisir dan nelayan berperan melakukan pengawasan, menjaga ekosistem, merehabilitasi habitat, penetapan peraturan lokal dan pengelolaan berbasis kearifan lokal,” terang Pingkan.

Selain itu, dia menambahkan, keanekaragaman hayati di perairan Indonesia memiliki peran dan fungsi lingkungan, ekonomi serta sosial budaya. Namun, menurutnya, pemanfaatan keanekaragaman hayati yang tidak terkontrol, over eksploitasi dan tidak ramah lingkungan dapat mengancam keanekaragaman hayati itu sendiri.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2007 tentang konservasi sumber daya ikan. Dengan tujuan: Melindungi jenis ikan terancam punah; mempertahankan keanekaragaman jenis ikan; memanfaatkan sumber daya ikan secara berkelanjutan; dan memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem.

“Gurita bisa masuk dalam kategori terancam punah jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Dalam status konservasi, gurita belum dilindungi secara nasional,” ujar Pingkan.

Dalam peraturan Kementrian Kelautan dan Perikanan  No.31/Permen-KP/2020, kawasan konservasi perairan  adalah kawasan yang mempunyai ciri khas  tertentu sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan dan dimanfaatkan.

“Salah satu tujuan kawasan konservasi perairan, dalam hal ini dalam pengelolaan perikanan gurita, yaitu untuk keberlanjutan perikanan, juga untuk keberlanjutan ekonomi masyarakat nelayan itu sendiri,” imbuhnya.

Pada webinar yang sama, perwakilan Sustainable Fisheries  Partnership (SFP), Dessy Anggraeni mengemukakan gurita belum menjadi skala prioritas dalam perikanan Indonesia. Karena dari segi data dan lain sebagainya masih kurang. Meski begitu, kata Dessy, gurita sangat berpotensi sangat besar terutama dalam hubungannya dengan nelayan-nelayan skala kecil.

SFP adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus berkolaborasi dengan supply chain dari hulu hingga hilir, juga bersama pemerintah, untuk memperbaiki pengelolaan perikanan menuju pengelolaan yang berkelanjutan.

“Hasil produksi gurita secara global, sebagian besar berasal dari nelayan skala kecil. Di sinilah kita harus bersinergi, bagimana pnengelolaan gurita bisa melibatkan komunitas nelayan kecil,” jelas Dessy.

Dari data FAO Figis tahun 2017, Indonesia menempati peringkat sepuluh besar dalam hal ekspor perikanan gurita.Lebih dari 60% gurita dari Indonesia, sambung Dessy, diekspor ke negara-negara yang sudah mulai meminta isu keberlanjutan (sustainable products) sebagai salah satu persyaratan (Amerika Serikat, Italia, Australia, Jepang dan Yunani) – baik melalui sertifikasi MSC (Marine Stewardship Council), maupun keikutsertaan dalam program perbaikan perikanan (Fishery Improvement Project atau FIP).

“Sementara produk gurita dari Indonesia masuk dalam kategori ‘to avoid’, bisa dibilang rapor merah, dalam seafood watch list. Kami melakukan komunikasi-komunikasi dengan buyer di wilayah tujuan ekspor, mereka memang masih mau mengonsumsi gurita Indonesia, tapi ke depan harus ada perbaikan dalam pengelolaan gurita yang lebih baik,” katanya.

Oleh karena itu, Dessy berharap, perikanan gurita di Indonesia harus mulai melalukan program perbaikan perikanan gurita (Fishery Improvement Project – FIP) menuju perikanan yang berkelanjutan dan dapat mempertahankan akses produk gurita Indonesia ke pasar global. ***