Peran Perempuan di Komunitas Nelayan Uwedikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Lebih dari sepuluh perempuan, terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan mengidentifikasi jenis kelamin gurita dan pemetaan gender yang dilakukan Japesda di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Mereka yang ikut, sebagian besar adalah nelayan, ataupun istri dari nelayan setempat.

Field Staff (staf lapangan) Japesda, Jalipati Tuheteru mengatakan, kegiatan ini dilatarbelakangi banyaknya jumlah nelayan di Uwedikan yang menangkap gurita, baik laki-laki maupun perempuan, namun selama ini mereka tidak mengetahui jenis kelamin gurita hasil tangkapan.

Padahal, menurut Jali, hal itu sangat penting untuk keseimbangan populasi gurita di masa depan. Ketika proses identifikasi gurita sudah dilakukan secara mandiri, mereka nantinya akan menentukan pengelolaan yang bisa menjaga sumber pendapatan mereka itu.

“Mereka sangat penasaran dan antusias. Setiap hari mereka, atau suami mereka menangkap gurita, tapi mereka tidak tahu bahwa sebenarnya gurita punya jenis kelamin,” kata Jali.

Field staff Japesda mempraktekkan cara mengidentifikasi jenis kelamin gurita kepada kelompok perempuan di Desa Uwedikan.

Selain dilatih untuk mengidentifikasi jenis kelamin gurita, kegiatan itu juga bertujuan untuk mengetahui peran perempuan dalam keluarga nelayan, yang mungkin selama ini tertutup oleh dominasi peran laki-laki.

Dari diskusi tersebut, mereka bercerita tentang peran ganda perempuan dalam rumah tangga. Di samping mengurus dapur dan anak-anak, banyak dari mereka yang sebenarnya juga ikut menangkap ikan bersama suami. Bahkan ada yang mengaku sudah melaut sejak tahun 1970-an.

Terlebih di masa-masa sulit seperti musim paceklik atau harga ikan turun drastis, perempuan justru mengambil peran yang sangat penting. Seperti pengakuan para ‘emak-emak’, saat kondisi seperti itu, mereka mencari pendapatan lain seperti menjahit, menjual hasil olahan ikan, ataupun pendapatan lain untuk memenuhi finanasial rumah tangga.

“Ini juga untuk mempertegas kepada masyarakat bahwa peran mereka (perempuan) bukan hanya sekadar untuk urusan dapur dan tempat tidur,” ujar Jali.

Ke depan, lanjut Jali, Japesda akan membentuk sebuah kelompok perempuan nelayan, namun dengan catatan atas ketersediaan mereka sendiri. Karena, dalam program pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Desa Uwedikan, nantinya pengelompokan tidak hanya dilakukan untuk nelayan laki-laki saja.

Tak hanya itu, tindak lanjut dari diskusi yang dilakukan itu, Jali dan tim Japesda juga akan melakukan sharing session khusus untuk kelompok perempuan tersebut.

Tim Japesda memandu diskusi dengan kelompok perempuan di Desa Uwedikan.

“Kami ingin ibu-ibu ini berdiri di depan, menceritakan kepada masyarakat mengenai apa saja yang mereka lakukan, apa saja peran mereka yang selama ini tidak diketahui atau terabaikan oleh khalayak,” ungkap Jali.

Sharing session ini dilakukan untuk menumbuhkan motivasi atau rasa percaya diri bagi kelompok perempuan, bahwa: Tidak hanya laki-laki yang bisa berbicara di depan, berdiri di depan, dan mereka bukan hanya sekadar mesin pencetak anak.

Dalam aktivitasnya di pesisir Desa Uwedikan itu, Jali melihat langsung bagaimana kegigihan perempuan di sana. Pagi mengurus anak, terus lanjut turun melau menangkap ikan, sorenya masak dan membantu memasarkan ikan hasil tangkapan. Apalagi, sebagian besar nelayan perempuan di sana sudah berusia senja.

Seorang nelayan perempuan di Desa Uwedikan menjaring pukat, sebelum turun melaut.

“Itu yang membuat saya terharu dan terkesan. Mereka sungguh luar biasa,” katanya.

Eksistensi para perempuan dalam komunitas nelayan di Uwedikan ini, sedikit –banyak memberikan gambaran adanya peran besar perempuan yang tidak boleh hanya dipandang sebelah mata. Mereka membuktikan, mereka bisa melakukan aktivitas nelayan sama seperti laki-laki. Bahkan, lebih dari itu, mereka juga mengerjakan banyak tugas tambahan di dalam rumah.***