Pua, Pelaut Ulung dari Uwedikan

Japesda – Guratan di wajah lelaki itu tampak jelas menunjukkan bahwa usianya sedang menuju senja. Namun semangatnya tak pernah surut ketika turun melaut mencari gurita. Pua, demikian namanya sering disebut, lelaki bernama asli Tatit Sahaba, yang kini usianya mencapai 69 tahun. Ia telah banyak makan asam garam kehidupan.

Pua adalah orang Bajo generasi pertama yang datang ke Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ia sebelumnya menetap bersama orang tuanya di gugusan pulau Salabangka, Morowali, Sulawesi Tengah. Sebagai seorang Bajo yang dikenal pengembara laut ulung, masa remaja Pua dihabiskan berpetualang dari tanjung ke teluk, teluk ke pulau-pulau.

Bahkan dalam pengembaraannya, di tahun 1970-an ia berlayar hingga ke laut Negeri Jiran Malaysia dan juga perairan laut Timor Timur (sekarang Timor Leste). Hingga akhirnya, takdir perahu lepa seolah membawa hatinya berlabuh ke daratan Uwedikan.

“Saya termasuk salah satu orang Bajo yang pertama kali menginjakkan kaki di Desa Uwedikan,” kata Pua.

Desa Uwedikan merupakan sebuah desa yang letaknya berada di kawasan Teluk Tolo. Sebagian besar penduduk Uwedikan adalah suku Saluan. Pua datang sejak tahun 1990-an, lalu menetap dan berbaur dalam keharmonisan bersama orang-orang Saluan, kaharmonisan itu dibangun laksana nyanyian angin kepada nyiur yang berdiri tegak di ujung pantai di dusun itu.

Beberapa tahun lalu, Pua masih sering menjalankan tradisi ba pongka atau pongka, yang berarticara mereka mencari ikan dengan tinggal di atas perahu dan dilakukan dalam jangka waktu lama, dengan mengikutsertakan keluarga seperti istri dan anak.Soal arah, Pua dan suku Bajo lainnya tak memerlukan teknologi canggih. Mereka biasanya menggunakan kompas alam sebagai petunjuk arah, seperti: angin, langit atau bintang.

Pua kini tak lagi intens turun bapongka. Faktor umur ikut melandasi peristirahatannya untuk berpetualang jauh di samudra lepas. Terlebih, ia mengakui cukup terkontaminasi dengan daratan dan segala kemudahannya.

“Setelah mengenal mesin, orang-orang jadi malas,” cetusnya.

Pua bercerita, suatu ketika di tahun 2000-an, ia pernah kepincut melakukan aktivitas bom ikan. Melihat banyaknya tangkapan ikan oleh nelayan-nelayan lain, ia pun tergoda untuk coba-coba. Namun hal itu tak berlangsung lama. Pua semakin sadar, ketika belakangan ikan-ikan sudah tak lagi mudah didapatkan dan karang-karang mulai rusak. Apalagi, Pua dan sebagian besar nelayan Uwedikan juga adalah nelayan pencari gurita.

“Hasil tangkapan dulu sangat banyak. Untuk menangkap Gurita dalam satu kali turun hasilnya bisa mencapai 20 Kg, bahkan lebih. Namun, sejak tahun 2006 (saat bom ikan sangat masif), semua terasa sulit,” katanya.

Bom ikan memang masih menjadi teror di dunia perairan laut. Dampaknya sangat kompleks. Bukan hanya merusak ekosistem perairan, tapi juga berhubungan langsung dengan masa depan manusia itu sendiri. Data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI) yang dirilis pada 2017, menunjukkan bahwa 35,15 persen karang di Indonesia dalam keadaan buruk.

“Tidak ada nelayan yang kaya dengan melakukan bom ikan. Yang kaya, ya, tetap pengumpul atau pendulang,” katanya.

Bagi Pua, bom ikan sama sekali tidak menaikkan taraf hidup para nelayan.Masa-masa suram itu banyak memberi pelajaran berharga buat Pua. Sekarang ia berikhtiar untuk menjaga laut Uwedikan dari perusakan. Baginya, laut adalah tabungan masa depan yang harus dijaga.

Pua juga tergabung dalam kelompok Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang dibentuk oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA) tahun 2017 silam. Kelompok tersebut menyepakati banyak hal, salah satunya mengenai zonasi wilayah laut. Selain itu, secara kolektif, mereka juga membuat aturan yang berisi: siapa saja yang merusak karang, akan didenda 500 ribu rupiah.

Saat ini Pua melakoni kesehariannya menjadi nelayan penangkap gurita. Atau jika sedang tidak lagi musim, ia mencari ikan karang,sembari menjadi melindungi rumah-rumah ikan dan juga habitat gurita itu. Ia juga menggunakan keahliannya membuat perahu, untuk para nelayan lain.

Sejak pandemi Covid-19 atau virus corona mewabah, tentunya sangat berdampak bagi para nelayan seperti Pua. Tangkapan ikan mereka sepi pembeli. Apalagi harga gurita yang turun drastis, membuat ia harus banyak merugi. Namun, kondisi ini tidak membuatnya berhenti melaut. Sebagai orang Bajo, ia sudah terbiasa dengan badai.

“Tinggal di laut itu berbahaya. Kena ombak, kena badai. Tapi kami sudah biasa,” ujarnya mengakhiri.

Analoginya, dalam menghadapi virus corona, ia seolah menegaskan kembali bahwa pelaut yang ulung tidaklah lahir dari laut yang tenang. Mereka sudah terbiasa menghadapi badai. Badai sebesar apapun, ia hanya akan menungganginya. Pua telah memberi contoh kepada kita, bagaimana nelayan-nelayan seperti dirinya tidak mudah terhempas oleh kondisi sesulit seperti saat ini. Pua pantang menyerah. ***