Simulasi Pengumpulan Data Perikanan Menggunakan Platform Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

JAPESDA – Di era sekarang ini, data dan penggunaannya menjadi sangat penting, baik untuk menentukan akar masalah atau dijadikan dasar untuk mencari solusi. Hal ini juga berlaku dalam mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Metode pengumpulan data pun makin ke sini makin mutakhir. Munculnya beberapa platform seperti aplikasi Koobotolbox dan Kobocollect, membuat pengumpulan data menjadi mudah dan efisien.

Kemarin, Sabtu (22 Mei 2021), para pendamping lapangan dan enumerator Jaring Advokasi Pengelolaan Sumberdaya Alam (Japesda) diperkenalkan dengan platform digital tersebut. Selain itu, mereka juga melakukan simulasi bagaimana mengumpulkan data menggunakan aplikasi ini, sebelum nantinya diterapkan di masing-masing desa dampingan.

Simulasi diikuti beberapa enumerator baru. Enumerator-enumerator baru ini akan bertugas mengumpulkan data perikanan–khususnya perikanan gurita—di lokasi-lokasi dampingan baru, yakni di Desa Kadoda, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah dan Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo; dalam program “Mendorong Pengelolaan Perikanan yang Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat”.

Para pendamping lapangan dan enumerator saat melakukan simulasi pengumpulan data menggunakan aplikasi Koobotolbox, Sabtu (22 Mei 2021).

Dengan platform ini, enumerator tak lagi disulitkan membawa buku-buku besar saat bertemu nelayan. Cukup membawa gadget, proses pengumpulan data menjadi lebih mudah. Selain itu, form dalam aplikasi itu juga sangat lengkap dan detail. Tidak hanya data tentang siapa dan berapa tangkapan gurita, melainkan data-data pendukung lainnya seperti kondisi biologis gurita, jenis alat tangkap, nama pengepul dan lain sebagainya.

Di Indonesia, data tentang perikanan gurita sangat minim. Akhir tahun kemarin, 7 Desember 2020, Japesda melakukan audiensi di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, di Kota Palu. Saat itu, Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut-Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Moh. Edward O Yusuf mengungkapkan bahwa memang data soal gurita terbatas, termasuk di instansi DKP.

Edward menuturkan, potensi perikanan gurita di Sulteng sangat tinggi. Ada banyak gurita dari Sulteng-termasuk di Desa Uwedikan-yang sudah diekspor ke Eropa dan Amerika. Tingginya permintaan gurita ini, menurut dia, muaranya tentu akan menguntungkan masyarakat nelayan. Oleh karena itu kerja sama dari semua pihak diperlukan untuk mengembangkan potensi tersebut.

“Saya memohon bantuan untuk dirangkum semua datanya. Karena kami membutuhkannya nanti. Data yang teman-teman hasilkan itu sangat berpengaruh pada langkah-langkah kebijakan yang akan diambil Pemerintah Provinsi,” katanya, saat itu.

Data yang lebih baik akan mengarah pada kehidupan yang lebih baik.***